Oleh: Ahmad Faisal Dinejad
Suatu budaya yang memiliki tatanan nilai akan membentuk peradaban yang bernilai pula.
–Nurcholis Madjid–
Dewasa ini, dunia yang semakin mapan (kosmo politan). Pendidikan ikut mengalami perubahan, ia lebih dekat dengan pendidikan modern yang banyak orang salah kaprah kepadanya. Modern disalah artikan menjadi westernesasi.
Pada satu sisi akses terbuka, kemajuan pengetahuan berkembang pesat dengan fasilitas teknologi. Namun pada sisi lain, peserta didik perlahan mulai jauh dari budaya dan kearifan lokal (local genius). pendidikan mulai sesak hanya dengan teori, peserta didik perlahan teralienasi. Mulai meminggirkan budaya, melupakan adat istiadat. Mata pelajaran bersesakan dalam tengkorak kepala. Namun sangat sedikit yang bersentuhan dengan nilai luhur bangsa yang berbudaya. Kurt Singer menyebutnya pedagogi hitam.
Saya melihat pendidikan kita yang sudah terjun bebas dalam kepentingan modal serta pasar bebas Neo-liberal, ia harus segera mendapatkan jalan keluar. Benar, yang dibutuhkan pendidikan kita hari ini adalah karakter. Karakter peserta didik membutuhkan bimbingan serius. Orentasi pendidikan seharusnya diarahkan pada perbaiakan moral etik serta mental. Degradasi moral, lupa sejarah dan identitas, kemerosotan karakter redupnya jiwa nasionalisme melahirkan banyak keresahan.
Pada wisuda akbar Politeknik keuangan negara STAN 2021 lalu. Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan RI. Menegasan arti penting pendidikan sebagai cerminan kemajuan suatu bangsa. Bu’ menteri mengutip Mandela. Pendidikan adalah alat atau senjata yang paling ampuh untuk mengubah indonesia menjadi negara yang lebih maju, adil dan sejahtra. Jika benar demikian, pendidikan seperti apa yang dimaksud Ibu menteri. Apakah pendidikan warisan kolonialisme, atau pendidikan yang lain.
Kebijakan tentang penerpan pendidikan berbasis kearifan lokal. Salah satu dari beragam jawaban. Indonesia dengan ragam keraifan lokal yang multi rupa, Sangat diuntungkan dengan regulasi ini. Regulasi ini harus dijemput dengan tangan terbuka. Dengan regulasi ini, masing-masing daerah dapat mengembangkan potensi budaya
yang kian hari tereduksi oleh westernisasi yang dianggap sebagai modernitas. Pendidikan karakter berbasis budaya hampir tidak ditemukan, pendidikan kita lebih condong kepada westernisasi. Kearifan lokal ditanggalkan.
Modernitas memang sebuah keniscayaan, namun bukan berarti harus menanggalkan jati diri sebagai negara yang berbudaya.
Founding father, seperti Ki Hadjar Dewantara dan Ibrahim Datuk Tan malaka adalah dedengkot tokoh pendidik. Meski gandrung pada wacana barat, tapi tidak meninggalkan lokal genius sebagai rujukan dalam implementasi pendidikan yang mereka jalankan. Taman siswa dan sekolah rakyat adalah produk gagasan yang mereka hasilkan.
Benar kata Rasid Yunus, untuk membangun karakter bangsa melalui pendidikan, seharusnya ada upaya pemerintah untuk mentransformasi nilai kearifan lokal (local culture) ke dalam sistem pendidikan kita. rekonstruksi budaya lokal kedalam kurikulum pendidikan. Seperti nilai dan makna gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Mandar pegunungan (Pitu Ulunna Salu/PUS) sebagai “sipangnganna”.
Sipangnganna merupakan sistem gotong royong atau tolong menolong antara anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama, yang didasarkan pada solidaritas sosial. Sistem ini telah diajarkan turun temurun oleh leluhur masyarakat PUS. Begitu juga dengan masyarakat Mandar wilayah pesisir (Pitu Ba’ba Binanga/ PBB). Ratusan abad silam, Sipangnganna adalah sarana untuk bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan demi kepentingan umum yang memiliki pesan dan filosofi yang sangat dalam. Harusnya menjadi salah satu rujukan dalam kurikulam mata pelajaran peserta didik.
Sipangnganna adalah salah satu dari ragam Lokal genius masyarakat PUS. Ia merupakan salah satu pedoman hidup dalam bermasyarakat yang bersifat fundamental dalam pembentukan karakter manusia PUS. Didalamnya terdapat value “Sipakatau” (Memanusiakan manusia). Konsep sipakatau dalam penerapannya, adalah upaya menumbuhkan kepekaan sesama masyarakat. Kosep ini telah menjadi “Pappasang” (Pesan-pesan leluhur yang di sampaikan melalui orang tua). Begitu juga dengan konsep “Sikasajangngi” ( Menyayangi sesama manusia). “Sikamasei” (Saling mengasihi sesama manusia). Nilai-niali ini diterapkan dalam ruang-ruang sosial yang kompleks masyarakat PUS jauh sebelum konsep pendidik formal hadir.
Namun bersamaan dengan semakin lajunya perubahan dan perkembangan zaman, kearifan lokal yang mengandung makna filosofis yang dalam serta basis epistemic yang mendasar. Nilai-nilai ini perlahan mulai ditinggalkan dan digantikan pada kehidupan bermasyarakat PUS. Lokal genius mulai kehilangan nilainya dalam masyarakat. Teknologi telah perlahan menggeser, lalu menggantikan basis epistemik dan falsafah leluhur yang sangat kuat.
Hukum grapitasi Newuton dan relavitas Einsten lebih akrab dengan peserta didik di PUS. Mereka lebih akrab kepada Darwin daripada Londong Dehata, sang pencetus Ada’ Tuho (Adat hidup) PUS dan Pencetus persatuan dan perdamaian di dua federasi Mandar, PUS dan PBB.
Gagasan tentang pendidikan berbasis lokal genius sudah seharusnya dijemput dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Seperti konsep Sipanganna pada masyarakat PUS, yang didalamnya ada nilai epistemic dan pesan leluhur yang sangat kuat. Dengan demikian peserta didik diharapkan tidak lupa kepada nilai-nilai falsafah kehidupan sebagai masyarakat yang berbudaya lagi beradat.
Seperti kata Nurcholis Madjid, seorang cendikiawan Indonesia. “Suatu budaya yang memiliki tatanan nilai akan membentuk peradaban yang bernilai pula,”.




