Mamasa – Kisah Salzabila (12), anak asal Dusun Rindingbassi, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, tak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga kembali menyoroti lemahnya akses layanan kesehatan di wilayah terpencil.
Selama ini, Salzabila diketahui belum pernah mendapatkan penanganan medis yang layak. Jarak fasilitas kesehatan yang jauh, keterbatasan sarana, serta kondisi ekonomi menjadi hambatan yang nyata bagi keluarganya.
Perhatian publik terhadap kasus ini meningkat setelah kisahnya viral. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa seorang anak harus menunggu viral lebih dulu untuk mendapatkan penanganan?
Pada 1 Mei 2026, tim Lembaga Cinta Kasih Makassar (LCKM) turun langsung menjemput Salzabila dari kampung halamannya. Ia kemudian dibawa ke RSIA Mifta untuk mendapatkan penanganan awal.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi Salzabila cukup serius dan tidak dapat ditangani secara maksimal di rumah sakit tersebut karena keterbatasan fasilitas.
Pihak RSIA Mifta kemudian menerbitkan surat rujukan pada 6 Mei 2026. Salzabila dijadwalkan diberangkatkan ke RSKD Dadi untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Ketua LCKM, Silvia Veronica, menegaskan bahwa pihaknya bergerak tanpa dukungan dari pemerintah daerah.
“Kami jemput langsung dari kampungnya. Setelah diperiksa, kondisinya cukup serius sehingga harus dirujuk ke Makassar. Kami berangkat tanpa bantuan keuangan dari pihak mana pun, termasuk pemerintah daerah,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Fakta bahwa seluruh biaya pengobatan yang tidak di tanggung oleh BPJS akan ditanggung oleh lembaga sosial memunculkan kritik tersendiri terhadap peran negara dalam menjamin akses kesehatan warganya.
Di wilayah seperti Mamasa, persoalan bukan hanya pada ketersediaan rumah sakit, tetapi juga kualitas layanan, fasilitas medis, serta jangkauan yang masih sulit diakses masyarakat di pelosok.
Kasus Salzabila menjadi potret nyata bahwa ketimpangan layanan kesehatan masih terjadi. Warga di daerah terpencil kerap berada dalam posisi rentan, harus menunggu bantuan, bahkan viral di media sosial, untuk bisa mendapatkan hak dasar mereka.
LCKM berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kondisi ini.
“Semoga ke depan ada perhatian lebih serius, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan,” tutup Silvia.
Kisah Salzabila kini bukan hanya tentang perjuangan seorang anak melawan sakit, tetapi juga tentang sistem yang belum sepenuhnya hadir bagi mereka yang paling membutuhkan. (*)




