Derita Kakak Adik di Mamasa: Satu Epilepsi, Satu Down Syndrome, Belum Pernah Dirawat di Rumah Sakit

Relawan Lembaga Cinta Kasih Makassar (LCKM) berfoto bersama keluarga di Dusun Rindingbassi, Desa Pamoseang, Mamasa. Salsabila (12) dan Abizar (7) tampak berada di tengah, didampingi kedua orang tuanya. Kegiatan asesmen ini juga turut didampingi oleh Pemuda Pamoseang Institute yang ikut mengawal proses pendampingan terhadap keluarga tersebut, (19/04/26). Ist.

Mamasa Di tengah gencarnya narasi peningkatan layanan kesehatan, dua anak di Mamasa justru belum pernah sekalipun merasakan perawatan di rumah sakit. Padahal, keduanya telah hidup dengan kondisi sakit sejak lahir. Kedua anak tersebut adalah Salsabila (12) dan adiknya Abizar (7), warga Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi.

Berdasarkan keterangan orang tua mereka, Murniati, Salsabila telah didiagnosis menderita epilepsi dan stunting saat menjalani pemeriksaan di Puskesmas Mambi. Saat itu, tenaga kesehatan merekomendasikan rujukan ke rumah sakit di Kabupaten Polewali Mandar. Namun, rujukan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena keterbatasan biaya.

Saat ini, kondisi Salsabila masih sering mengalami kejang. Dalam kesehariannya, ia juga memiliki keterbatasan dalam mengonsumsi makanan dan hanya mengandalkan makanan sederhana seperti ubi rebus.

Sementara itu, Abizar (7) merupakan penyandang disabilitas dengan kondisi down syndrome. Hingga kini, ia juga belum pernah mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Orang tua kedua anak tersebut bekerja sebagai petani nilam. Dengan masa tanam sekitar 5 hingga 6 bulan dan harga jual sekitar Rp650 ribu per kilogram, penghasilan yang diperoleh belum mencukupi untuk kebutuhan pengobatan.

Ahad (19/4/26), Lembaga Cinta Kasih Makassar (LCKM) melakukan asesmen langsung di rumah keluarga tersebut. Relawan LCKM, Soffiyyah, menyebut kondisi ekonomi serta keterbatasan akses menjadi kendala utama.

Dalam kegiatan tersebut, Rahmatullah Teng S.H bersama Pemuda Pamoseang Institute turut mendampingi tim relawan saat turun langsung ke lokasi. Rahmatullah menyampaikan bahwa keterbatasan perhatian dari pemerintah daerah tidak menyurutkan upaya masyarakat untuk saling membantu.

“Absennya pemerintah Kabupaten Mamasa tidak melemahkan tekad kami untuk membantu menjembatani agar masyarakat Pamoseang dapat memperoleh layanan kesehatan yang layak sebagai hak dasar warga negara,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim relawan yang telah membantu keluarga tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim relawan LCKM yang telah membantu keluarga Salsabila dan Abizar yang selama ini terkendala biaya untuk berobat. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka,” tambahnya.

Sebagai langkah awal, LCKM telah menyalurkan bantuan donasi kepada keluarga. Ketua LCKM, Silvia Veronica, menyatakan pihaknya akan terus menggalang dukungan lanjutan agar Salsabila dapat segera dirujuk dan memperoleh perawatan di rumah sakit umum.

Kasus ini menjadi gambaran bahwa masih terdapat masyarakat di wilayah pedesaan yang menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan akibat faktor ekonomi dan geografis. Diharapkan adanya perhatian dari berbagai pihak agar penanganan yang layak dapat segera diberikan kepada kedua anak tersebut. (*)