Mahasiswa KKN Kebangsaan Desa Kanamit Gelar Sosialisasi Cara Pembuatan Pupuk Hayati dan Pestisida Nabati

Sulbarupdate.com, PULANG PISAU – Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan yang berlokasi di Desa Kanamit, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah melakukan sosialisasi pembuatan pupuk hayati yang terbuat dari akar bambu dan pestisida nabati yang terbuat dari daun pepaya.

Acara ini dilaksanakan di balai Desa Kanamit dan ditujukan untuk kelompok tani yang ada di Desa Kanamit sebagai sasaran utamanya. Selain itu, acara dihadiri oleh kepala desa kanamit, Babinsa, Ketua RT, Tokoh masyarakat serta tenaga kesehatan Desa Kanamit.

Ketua Kelompok KKN Kebangsaan Desa Kanamit, Muhammad Alif Mulky mengatakan, saat melakukan survei di desa dan berinteraksi bersama masyarakat dilihat dari bidang pertaniannya dari berbagai komoditas tanaman yang ditanam berupa sengon, sawit, karet, tanaman cabe dan komoditas tanaman lainnya yang dibudidayakan namun memiliki kendala dalam perawatan serta rentan terserang OPT (Organisme Penganggu Tumbuhan).

“Untuk mencegah terjadinya serangan hama di komoditas tanaman yang dibudidayakan masyarakat, mahasiswa KKN Kebangsaan membuat suatu inovasi penunjang kebutuhan pertanian berupa pestisida nabati dan pupuk hayati untuk mengurangi dan mengantisipasi risiko terjadinya kerusakan tanaman oleh hama maupun peningkatan dan mempercepat pertumbuhan tanaman yang kekurangan nutrisi, serta meningkatkan kesuburan tanaman yang di beri perlakuan pupuk hayati,” terangnya.

Tujuan dari sosialisasi tersebut adalah mendorong masyarakat di Desa Kanamit untuk berdaya kelola memanfaatkan sumber bahan baku yang ada untuk menggantikan pupuk kimia maupun pestisida kimia. Bahan bakunya mudah diperoleh tanpa harus membeli,” ungkap Mahasiswa KKN Kebangsaan 2022, Meldi Marselus, Minggu (14/7/22).

Menurut Meldi, bahan baku pembuatan pestisida nabati sangat mudah karena bisa memanfaatkan tumbuhan yang ada di lingkungan kita seperti tumbuhan pepaya (Carica papaya) yang getahnya mengandung kelompok senyawa/kandungan enzim sistein protease seperti papain dan kimopapain, serta menghasilkan senyawa-senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino yang sangat beracun bagi serangga pemakan tumbuhan.

“Senyawa-senyawa tersebut dapat bersifat racun kontak, racun pernapasan dan racun perut bagi hama dan residu atau sisa-sisa sampah yang dihasilkan dari pestisida nabati dari daun pepaya ini lebih mudah terurai sehingga lebih aman bagi lingkungan,” tambah Meldi.

Mahasiswa KKN Kebangsaan, Krisda Maya Pista, menjelaskan pembuatan pupuk hayati ramah lingkungan dan pembuatannya juga berbahan dari sampah-sampah organik seperti dari sisa-sisa sayuran, sisa buah-buahan, sisa makanan, daun kering dan lain-lain yang dapat digunakan sebagai bahan utama pupuk hayati.

“Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroba dan bermanfaat dalam pertumbuhan tanaman. Kebutuhan tanaman akan nutrisi hara dalam tanah sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu, pembuatan pupuk yang terbuat dari tanaman ini sekarang dikembangkan dengan sifat yang spesifik. Kebutuhan utama nutrisi tanaman adalah nitrogen, fosfat, dan kalium yang mampu memacu pertumbuhan tanaman,” terang Krisda.

Menurut Kepala Desa Kanamit, program tersebut sangat membantu warga desanya.

“Acara ini memang kami butuhkan karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui akan pupuk hayati dan pestisida nabati yang ramah lingkungan. Harapannya, akan ada transfer ilmu dari mahasiswa kepada masyarakat untuk masalah pemanfaatan pupuk hayati dan pestisida nabati,” ungkap Hadi, Kepala Desa Kanamit.