Mamasa – Di usianya yang baru 12 tahun, Salsabila Ramadani seharusnya menikmati masa kanak-kanak seperti anak-anak lain: belajar, bermain, dan bercita-cita. Namun bagi siswi sekolah dasar yang tinggal di Desa Pamoseang, Kabupaten Mamasa ini, hari-harinya justru diwarnai perjuangan melawan penyakit yang telah ia derita sejak masih balita.
Salsabila merupakan anak dari pasangan Murniati dan Atang Wahyudi. Menurut keluarganya, gejala penyakit mulai terlihat ketika ia berusia sekitar dua tahun. Sejak saat itu, kesehatannya sering terganggu.
Ketika penyakitnya kambuh, Salsabila kerap mengalami kejang-kejang hingga kehilangan kesadaran. Dalam beberapa kejadian, ia bahkan buang air kecil tanpa disadari.
Meski kondisi tersebut kerap datang tiba-tiba, Salsabila tetap berusaha menjalani kehidupannya sebagai pelajar. Saat ini ia masih bersekolah dan telah duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.
Ibunya, Murniati, mengatakan bahwa Salsabila pernah diperiksa oleh petugas kesehatan. Dari hasil pemeriksaan tersebut, keluarga mendapat penjelasan bahwa gejala yang dialami anaknya memiliki ciri-ciri gangguan saraf.
“Pernah diperiksa oleh petugas kesehatan. Katanya ciri-cirinya seperti gangguan saraf. Kalau kambuh dia sering kejang-kejang, kadang juga sampai tidak sadar,” ujar Murniati. (05/03/24).
Menurutnya, keluarga sebenarnya beberapa kali ingin membawa Salsabila untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan lanjutan agar penyakitnya bisa diketahui secara pasti.
Namun keterbatasan ekonomi membuat rencana tersebut belum dapat terwujud hingga sekarang. Biaya perjalanan dan pengobatan menjadi kendala bagi keluarga yang hidup dalam kondisi sederhana.
Di tengah keterbatasan tersebut, orang tua Salsabila tetap berusaha merawat dan mendampingi putrinya. Mereka berharap suatu hari Salsabila bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang lebih baik.
Bagi Murniati dan Atang Wahyudi, melihat Salsabila tetap berusaha bersekolah meski sering mengalami kejang menjadi kekuatan tersendiri untuk terus bertahan.
Kini keluarga hanya bisa berharap ada perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak agar Salsabila bisa mendapatkan pengobatan yang lebih memadai. Sebab bagi anak berusia 12 tahun itu, masa depan seharusnya tidak berhenti hanya karena penyakit yang datang sejak ia masih balita. (*)




