Gerakan ini lahir karena negara belum sepenuhnya hadir untuk warganya sendiri. Bapak Yunus dan Ibu Janaria hanyalah dua dari banyak orang yang terpinggirkan oleh lemahnya sistem pelayanan kesehatan di daerah. Seharusnya Pemda dan Pemprov bergerak cepat memberikan bantuan, bukan masyarakat yang terus menambal kelalaian sistem.
MAMASA – Sepasang suami istri asal Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi sakit berkepanjangan tanpa perhatian serius dari pemerintah daerah. Yunus (67) dan Janaria (57) telah lama terbaring lemah karena sakit, namun hingga kini belum ada bantuan langsung dari Pemerintah Kabupaten Mamasa.
Yunus sudah empat tahun tidak bisa beraktivitas karena sakit pusing parah yang membuatnya hanya terbaring di rumah. Sementara istrinya, Janaria, sejak setahun terakhir mengalami kelumpuhan di sebagian tubuhnya. Keduanya kini tinggal di Desa Indobanua, desa tetangga Pamoseang, dan dirawat oleh anak-anak mereka dengan bantuan keluarga serta tetangga sekitar.
Setahun lalu, Janaria sempat dirawat di RS Andi Depu Polewali Mandar selama 19 hari. Dokter menyarankan agar ia melanjutkan pengobatan secara rawat jalan, namun karena keterbatasan biaya, pengobatan itu terhenti. Sejak saat itu, pasangan lansia tersebut hanya mengandalkan perawatan seadanya di rumah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Mamasa. Kondisi ini memantik keprihatinan luas, terutama di kalangan mahasiswa asal Sulawesi Barat yang menempuh pendidikan di luar daerah.

Di Parepare, Aliansi Mahasiswa Sulbar tengah menggalang aksi kemanusiaan untuk membantu biaya pengobatan Yunus dan Janaria. Mereka menggandeng sejumlah organisasi kemahasiswaan, baik dari intra maupun ekstra kampus IAIN Parepare, sebagai bentuk solidaritas sesama warga Sulbar.
Aksi solidaritas ini rencananya akan dilaksanakan pada 25–26 Oktober 2025 di beberapa titik di Kota Parepare.
“Gerakan ini lahir karena negara belum sepenuhnya hadir untuk warganya sendiri. Bapak Yunus dan Ibu Janaria hanyalah dua dari banyak orang yang terpinggirkan oleh lemahnya sistem pelayanan kesehatan di daerah. Seharusnya Pemda dan Pemprov bergerak cepat memberikan bantuan, bukan masyarakat yang terus menambal kelalaian sistem. Tapi di sisi lain, inilah bukti bahwa rasa kemanusiaan di tengah masyarakat masih hidup, setiap rupiah yang terkumpul adalah harapan bagi mereka yang berjuang untuk sembuh,” ujar Akmal Muhajir, salah satu inisiator aksi kemanusiaan.
Sementara itu, Ahmad Faisal, warga yang menjadi penghubung keluarga, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada respon resmi dari Pemerintah Kabupaten Mamasa. Namun ia telah berupaya melakukan komunikasi dengan pihak terkait.
“Sampai hari ini belum ada respon dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa. Saya baru berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Pemerintah Desa Pamoseang untuk pengecekan DTESN Bapak Yunus dan Ibu Janaria. Alhamdulillah, Pemdes Pamoseang merespon dengan sigap, begitu juga dengan Dinsos Mamasa. Rencana saya akan bertemu dengan Kadis Sosial Mamasa hari Senin mendatang,” ujar Faisal.
Faisal juga menambahkan bahwa setelah penggalangan dana selesai, pihaknya bersama keluarga akan segera menentukan langkah medis berikutnya.
“Rencana ke depan, setelah dana terkumpul, kami akan membawa Bapak Yunus dan Ibu Janaria ke rumah sakit untuk melanjutkan pengobatan, entah ke RSUD di Mamuju atau kembali ke Polman. Kami masih berkoordinasi dengan keluarga dan jejaring sosial, bagaimana baiknya nanti,” tambahnya.
Keluarga berharap langkah tersebut bisa membuka jalan bagi pengobatan yang lebih layak, sekaligus menarik perhatian pemerintah agar lebih cepat tanggap terhadap kasus-kasus serupa di pedalaman.
Kisah Yunus dan Janaria kini menjadi pengingat betapa lemahnya jangkauan layanan kesehatan dan perlindungan sosial di Mamasa. Di tengah janji pembangunan dan pemerataan kesejahteraan, sebagian warga masih harus berjuang melawan sakit dalam kesunyian—menunggu negara benar-benar hadir. (*)




