Salu Manda (Sungai Manda) yang mengalir di perbatasan Desa Popenga dan Desa Ulumanda, Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene. (Image: Tim Sekati.id)
Sekati.id—Ulunna Manda Manda yang kemudian dikenal sebagai Hulu Sungai Mandar merupakan bagian penting dari lanskap sejarah dan budaya Sulawesi Barat. Sungai ini diyakini sebagai hulu dari Sungai Mandar yang bermuara di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Meski tidak banyak tercatat dalam historiografi resmi, keberadaannya hidup kuat dalam ingatan dan cerita masyarakat lokal.
Dalam catatan Darwis Hamsah tahun 1971 disebutkan bahwa di hulu Sungai Mandar terdapat sebuah desa bernama Desa Ulu Manda yang kala itu termasuk wilayah Kecamatan Malunda Kabupaten Majene. Seiring perjalanan waktu desa ini kemudian mekar menjadi dua wilayah administratif yaitu Desa Ulu Manda dan Desa Popenga Kecamatan Ulumanda. Dari wilayah inilah jejak Ulunna Manda terus dijaga dan dikenang oleh masyarakat setempat.
Sumber air Ulunna Manda dipercaya berasal dari celah batu di Dusun Batannato Desa Popenga Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene. Dari titik inilah aliran air kecil keluar lalu mengalir membelah pegunungan dan hutan belantara melewati wilayah Kabupaten Majene hingga Kabupaten Polewali Mandar. Dalam perjalanannya sungai ini dikenal dengan dua sebutan yaitu Salu Manda dan Sungai Mandar. Meski di bagian hulu alirannya relatif kecil, nama Manda tetap melekat kuat meskipun puluhan sungai lain menyatu sepanjang perjalanannya menuju hilir. Keunikan inilah yang membuat nama Manda tidak pernah hilang hingga tiba di Tinambung.
Dalam bahasa masyarakat lokal kata Manda berarti kuat dan sering pula disebut dengan istilah Makassa. Makna ini seolah menggambarkan karakter sungai itu sendiri yang setia mengalir dari hulu hingga hilir tanpa kehilangan identitasnya. Sayangnya hingga kini belum banyak yang mengetahui keberadaan Hulu Sungai Mandar beserta kekayaan budaya dan sejarah yang tersimpan di sekitarnya.
Sungai Mandar sejatinya menjadi saksi bisu hubungan panjang antara masyarakat pegunungan yang dikenal sebagai Ulu Salu dan masyarakat pesisir yang disebut Ba’ba Binanga. Alirannya yang bermula dari wilayah Ulu Salu dan bermuara di Ba’ba Binanga menjadi simbol bahwa hulu dan hilir merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan meski memiliki ragam adat istiadat dan latar budaya yang berbeda. Dari relasi inilah kemudian dikenal identitas etnis Todiulunna Salu dan Ba’ba Binanga.
Dalam cerita lisan masyarakat Batannato disebutkan bahwa Ulunna Manda mengalir dari wilayah Pullao Urekang yang masih termasuk wilayah adat Pamoseang dengan gelar adat Anak Ulua. Pada perjalanannya sungai ini disebut berasal dari Rinding Bassinna Pitu Ulunna Salu lalu mengalir melewati wilayah adat Ulu Manda yang dikenal sebagai Sullurang Bassi hingga mencapai wilayah Ba’ba Binanga yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Balanipa. Meski sulit ditemukan dalam sumber tertulis, sejarah tutur yang diwariskan turun temurun oleh masyarakat Batannato menjadi sumber penting dalam memahami jejak Ulunna Manda.
Pada penelusuran penulis, Sungai Manda mengalir dari Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene dan empat Kecamatan yang terletak di Kabupaten Polewali Mandar, yaitu Kecamatan Tutar, Alu, dan Tinambung.

Mitologi lokal pun turut menguatkan posisi sungai ini dalam ingatan kolektif masyarakat. Dalam cerita rakyat Masapi Kumirri atau sidat raksasa disebutkan bahwa makhluk tersebut berangkat dari Ulu Salu menuju Ba’ba Binanga melalui Ulunna Manda. Syair Ma’nassa mahalena Masapi Kumirri ri Ulunna Manda Manda menjadi penanda kuat akan perjalanan sakral tersebut. Selain itu air Hulu Sungai Mandar juga diyakini memiliki khasiat penyembuhan sehingga tidak sedikit warga dari luar daerah datang untuk berziarah, mandi, atau sekadar meminum airnya.
Ironisnya keberadaan Hulu Sungai Mandar tidak setenar muaranya. Catatan sejarah lebih banyak menyoroti wilayah pesisir sementara hulu seakan terlupakan. Akses menuju wilayah Batannato, Desa Popenga Kecamatan Ulumanda hingga kini masih sangat memprihatinkan. Letaknya yang berada di desa terakhir Kabupaten Majene dan berbatasan dengan Kabupaten Mamasa menjadikan wilayah ini masuk dalam kategori daerah tertinggal. Untuk mencapai Hulu Sungai Mandar orang masih harus bergelut dengan lumpur dan keringat.
Menariknya meski masyarakat Ulunna Salu sering merasa canggung bila disebut sebagai orang Mandar, mereka tetap menjaga hubungan kekerabatan yang erat dengan masyarakat pesisir. Seorang tokoh adat Pullao Urekang Desa Popenga pernah mengungkapkan bahwa mereka lebih dekat dengan sebutan to Ulunna Salu. Sebutan orang Mandar terasa ganjil bagi mereka. Hal ini juga dicatat oleh antropolog Kenneth M George pada tahun 1996. Meski secara ilmiah digabungkan dalam Suku Mandar, dalam pemahaman lokal istilah To Manda merujuk pada orang pesisir sementara mereka memandang diri sebagai orang Ulu Salu.
Namun pada akhirnya perbedaan sebutan dan identitas ini tidak menghapus ikatan sejarah dan budaya yang telah terjalin lama. Ulunna Manda tetap menjadi penghubung setia antara hulu dan hilir. Seperti apa pun kita memahami Mandar, Sungai Mandar, atau Ulunna Manda Manda, ketiganya adalah bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Sulawesi Barat yang patut dijaga dan dipelajari.
Tulisan ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan warga lokal, sejarah tutur, cerita rakyat, serta beberapa sumber ilmiah. Apabila terdapat kekeliruan, kiranya dapat diberikan petunjuk sebagai bahan perbaikan. Semoga catatan singkat ini dapat menambah khazanah pengetahuan dan membuka ruang diskusi tentang sejarah lokal yang selama ini terpinggirkan.(*)




