September selalu punya cara membuka ingatan untuk Sulawesi Barat. Ingatan tentang riuh barisan mahasiswa Mandar di penghujung 1990-an, ketika jalanan kota Makassar dipenuhi suara lantang yang menolak tunduk pada keterbatasan. Dari ruang-ruang asrama hingga jalan-jalan penuh demonstran, satu tuntutan bergema: Sulawesi Barat harus lahir.
Di tengah barisan itu berdiri seorang anak desa: Syamsul Mudir.
Dari Indobanua ke Panggung Sejarah
Mudir lahir dan tumbuh di Indobanua, sebuah desa terpencil di pelosok paling barat Mamasa. Letaknya jauh di pedalaman, berbatasan dengan hutan dan pegunungan, dahulu Indobanua adalah bagian dari wilayah Pamoseang yang dalam sejarah lokal dikenal sebagai salah satu wilayah Pitu Ulunna Salu.
Para pegiat budaya akar rumput kerap menyebut Pamoseang sebagai “peradaban yang hilang” Sebuah peradaban yang tak tercatat megah dalam sejarah nasional, tetapi menyimpan jejak kebijaksanaan yang sunyi, kini hampir lenyap. Dari tanah senyap itulah, seorang anak desa menapaki jalan menuju panggung sejarah.
Masa kecil Mudir adalah cerita tentang keterbatasan. Jalan kampung masih tanah merah yang bila hujan berubah menjadi lumpur licin. Malam-malam diterangi lampu minyak karena listrik belum masuk desa. Buku pelajaran amat terbatas, dan sekolah dasar hanya punya guru seadanya. Di Indobanua, menyandang gelar mahasiswa adalah sesuatu yang terasa mustahil pada masa itu.
Namun Mudir memilih jalan berbeda. Ia menyimpan hasrat untuk belajar lebih tinggi, melampaui nasib yang seolah ditentukan oleh geografi dan garis keturunan. Ketika banyak teman sebaya berhenti di bangku sekolah, ia merantau agar bisa terus melanjutkan pendidikan.
“Dia itu kuat sekali menahan derita waktu kuliah,” kata salah satu kerabatnya di Indobanua. “Kadang satu bungkus mi instan dibagi dua, supaya bisa dimakan dua kali. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Katanya, kalau mau sekolah harus sanggup menderita.”
Cerita-cerita seperti itu menempel di ingatan keluarga. Bahwa di balik sosok aktivis yang berdiri di barisan depan demonstrasi, Mudir adalah anak desa yang mengakrabi lapar, hidup pas-pasan, namun teguh menjaga mimpinya.
Anak Desa di Jantung Gerakan

Hari-harinya penuh dengan rapat, diskusi, dan perdebatan panjang hingga dini hari. Ia terbiasa mendengarkan argumen, mengajukan sanggahan, lalu mengasah keberanian untuk bicara di forum.
Di kampus, Syamsul juga menemukan rumah kedua: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bagi dirinya, organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan kawah candradimuka yang mengajarkan disiplin, keberanian, dan nalar kritis. Dari forum-forum kecil hingga barisan aksi di jalanan, ia hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan ikut menggerakkan.
Dari forum di Bumi Permata Hijau hingga Kongres dan rapat akbar Rakyat Mandar, namanya tercatat sebagai bagian dari denyut perlawanan mahasiswa Mandar. Generasi pergerakan kala itu mengingatnya sebagai anak desa yang berani menembus sekat sosial dan menempatkan diri di jantung gerakan mahasiswa.
Ironi Seorang Pejuang
Namun sejarah kerap menyimpan ironi. Setelah Sulawesi Barat resmi berdiri pada tahun 2004, buah dari keringat, air mata, dan suara keras mahasiswa. Syamsul Mudir tak lagi menetap di tanah yang ia perjuangkan. Takdir membawanya jauh ke Kalimantan. Di tanah itu, ia menemukan cinta, menambatkan hati, dan menata hidup baru.
Bagi kerabatnya, ironi ini kerap menjadi cerita yang getir. Bahwa ia berjuang begitu gigih untuk melahirkan provinsi baru, tetapi justru tak lagi berada di sana ketika provinsi itu resmi berdiri. Namun mereka tahu, jejak Mudir tetap terpatri. Sejarah tidak diukur dari tempat seseorang bermukim, melainkan dari keberanian yang ditorehkan di saat yang menentukan.
Baju putih yang dulu ia kenakan di barisan aksi kini menjadi simbol dalam ingatan kolektif. Simbol tentang kesederhanaan, keteguhan, dan keberanian seorang anak desa.
Anak Desa dalam Ingatan Kolektif
Dua dekade lebih telah berlalu sejak Sulawesi Barat resmi berdiri. Generasi baru kini mungkin tak lagi mengenal nama Syamsul Mudir. Mereka tumbuh dengan wajah-wajah pemimpin baru, dengan narasi pembangunan yang lain. Namun bagi mereka yang pernah satu barisan, ingatan itu tetap hidup.
Mereka masih mengingat suara lantang Mudir di jalanan, tatap matanya yang penuh keyakinan, dan kesederhanaannya sebagai anak kampung. Syamsul menjadi bukti bahwa dari Indobanua-Pamoseang, kampung yang disebut peradaban yang hilang, lahir seorang anak desa yang menolak hilang dalam sejarah.
Bahwa perjuangan bukanlah soal menikmati hasil, melainkan keberanian menempatkan diri di tengah arus sejarah. Itulah warisan Syamsul Mudir: jejak seorang anak desa yang menoreh sejarah untuk Sulawesi Barat. (*)




