MAMASA — Sehari menjelang masuknya bulan Ramadan 1447 Hijriah, penyalur bahan bakar Pertamina di Desa Bujung Manurung, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, kembali menjadi sorotan. SPBU tersebut disebut tidak pernah membuka layanan pada siang hari dan hanya beroperasi pada malam hari. Pola yang, menurut warga, telah berlangsung selama dua hingga tiga tahun terakhir.
Kondisi ini dikhawatirkan semakin menyulitkan masyarakat saat Ramadan, ketika mobilitas dan kebutuhan bahan bakar biasanya meningkat, terutama menjelang waktu berbuka dan aktivitas malam hari.
Munawar, masyarakat setempat, mengatakan penutupan layanan di siang hari bukan hal baru. Namun, menjelang Ramadan, kondisi itu dinilai semakin meresahkan. “Siang hari memang tidak pernah buka. Bukan cuma warga, pelintas juga tidak dilayani. Padahal besok sudah mulai puasa,” ujar Munawar, Senin (17/2/26).
Menurutnya, sejumlah pengendara yang melintasi jalur Mambi kerap terpaksa mencari BBM ke wilayah lain dengan jarak yang tidak dekat. Bagi warga desa sendiri, kebutuhan bahan bakar untuk aktivitas harian menjadi bergantung pada layanan malam hari.
Warga juga menyoroti fakta bahwa operasional justru berlangsung pada malam hari, dengan pembelian menggunakan jerigen dalam jumlah besar. Pola distribusi tersebut dinilai tidak lazim untuk layanan publik yang semestinya terbuka pada jam-jam produktif.
Ramadan umumnya menjadi periode meningkatnya konsumsi dan mobilitas masyarakat. Namun di Bujung Manurung, akses BBM pada siang hari tetap tertutup tanpa penjelasan resmi dari pengelola. Warga mempertanyakan pengawasan distribusi BBM di wilayah tersebut, terlebih praktik ini disebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa koreksi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola penyalur BBM di Desa Bujung Manurung belum memberikan keterangan terkait alasan tidak beroperasinya layanan pada siang hari. Pihak Pertamina maupun pemerintah daerah juga belum menyampaikan respons atas keluhan warga. (*)




