‎PUISI |Darah Pamoseang di Benteng Kayu Mangiwang

‎Di gunung berkabut Pamoseang,

‎berdiri enam jiwa perkasa,

‎Pua Indaya, Pua Lamamusu,

‎Pua Saening, Pua Dandi,

‎Pua Paselleri, dan Talolona—

‎enam saudara, satu darah, satu jiwa.

Mereka turun dari rimba tinggi,

‎membawa napas Pa’barani,

‎menjawab panggilan Mamuju,

‎menyatu di Benteng Kayu Mangiwang.

‎Bukan emas yang mereka cari,

‎bukan kuasa yang mereka genggam,

‎hanya harga diri tanah leluhur,

‎hanya kebebasan yang mereka bela.

‎Di Budong-Budong mereka berdiri,

‎bergandeng dengan Pangulu dan Matoa,

‎bergabung dengan Pattolo’bali,

‎dengan Daenna Macirinnae,

‎dengan Parimuku dan Mantaroso’,

‎dengan Andi Mattona’ sang pembela.

‎Kayu Mangiwang jadi saksi,

‎dindingnya menyimpan jerit perang,

‎tanahnya menyerap darah perlawanan,

‎langitnya menggaungkan sumpah kemerdekaan.

‎Wahai anak negeri, dengarlah!

‎Enam bersaudara Pamoseang,

‎tidak meminta dikenang,

‎tidak haus sanjungan,

‎hanya menitip pesan:

‎“Selama persatuan hidup,

‎penjajahan takkan menang.”

 

Oleh : ANDI S. KALLA