Di gunung berkabut Pamoseang,
berdiri enam jiwa perkasa,
Pua Indaya, Pua Lamamusu,
Pua Saening, Pua Dandi,
Pua Paselleri, dan Talolona—
enam saudara, satu darah, satu jiwa.
Mereka turun dari rimba tinggi,
membawa napas Pa’barani,
menjawab panggilan Mamuju,
menyatu di Benteng Kayu Mangiwang.
Bukan emas yang mereka cari,
bukan kuasa yang mereka genggam,
hanya harga diri tanah leluhur,
hanya kebebasan yang mereka bela.
Di Budong-Budong mereka berdiri,
bergandeng dengan Pangulu dan Matoa,
bergabung dengan Pattolo’bali,
dengan Daenna Macirinnae,
dengan Parimuku dan Mantaroso’,
dengan Andi Mattona’ sang pembela.
Kayu Mangiwang jadi saksi,
dindingnya menyimpan jerit perang,
tanahnya menyerap darah perlawanan,
langitnya menggaungkan sumpah kemerdekaan.
Wahai anak negeri, dengarlah!
Enam bersaudara Pamoseang,
tidak meminta dikenang,
tidak haus sanjungan,
hanya menitip pesan:
“Selama persatuan hidup,
penjajahan takkan menang.”
Oleh : ANDI S. KALLA




