Sekati.id—Dalam tiap perjalanan panjang yang ditempuh anak-anak Dusun Salumaratte, bukan hanya jarak yang mereka rasakan, tetapi juga harapan—harapan yang perlahan tumbuh di setiap langkah kaki kecil mereka yang menapaki jalan berdebu, menyusuri hutan, dan melintasi jalanan yang tak terjamah kendaraan. Namun kini, jarak itu tidak lagi menjadi penghalang. Sebuah langkah besar telah terukir dalam perjalanan pendidikan di Kabupaten Majene, di mana kelas jauh yang didirikan oleh Samsuddin, sang Kepala Sekolah yang penuh dedikasi, menjadi lambang dari perjuangan tanpa henti untuk memajukan anak bangsa.
Samsuddin, yang dalam masa tugasnya penuh dengan kebijaksanaan dan cinta terhadap anak-anak desa, menyadari bahwa pendidikan tidak mengenal batas. Pendidikan, bagi beliau, adalah sebuah sungai yang harus mengalir ke mana pun, menyentuh setiap sudut tanah, tak peduli seberapa jauh ia harus melintasi hutan lebat atau melewati lembah yang tak terjangkau oleh roda-roda kendaraan. Oleh karena itu, ketika beliau memutuskan untuk mendirikan kelas jauh di Salumaratte, bukan hanya sebuah sekolah yang berdiri di sana. Lebih dari itu, sebuah jembatan antara harapan dan kenyataan, antara kemajuan dan keterbatasan, pun terwujud.
Masyarakat, yang dulu terjebak dalam lingkaran keterisolasian, kini merasa bahwa mereka memiliki masa depan yang lebih cerah. Setiap langkah kaki anak-anak mereka yang tidak lagi harus menembus hutan demi mencapai SDN 15 Ulumanda, kini menggambarkan harapan yang lebih terang. Seperti daun-daun yang tumbuh subur setelah hujan pertama, pendidikan yang hadir di tengah-tengah mereka menyuburkan gagasan-gagasan besar di pikiran para penerus bangsa.

Namun, seperti yang telah dijanjikan oleh Pak Samsuddin, harapan ini tidak berhenti pada saat ia melangkah mundur dari jabatannya. Kelas jauh yang dibentuknya bukan hanya sebuah proyek sementara, melainkan sebuah warisan yang harus diteruskan. Dengan tangan yang tak lelah, Jalaludin, sang pengganti, melanjutkan perjalanan itu. Ia menggenggam obor yang pernah dipegang Samsuddin, dan menyalakan api yang lebih terang di dalam jiwa anak-anak Salumaratte.
Pendidikan, pada akhirnya, adalah tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana setiap anak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, meskipun mereka dilahirkan di sudut-sudut yang paling terpencil. Tidak ada yang lebih mulia dari tugas seorang pendidik yang memahami bahwa setiap anak, tanpa memandang tempat dan waktu, memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang. Setiap langkah yang diambil menuju kelas jauh ini adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang yang tidak boleh dihentikan oleh apapun.
Kita sering lupa, dalam hiruk-pikuk dunia yang terus maju, bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku dan pelajaran di dalam ruang kelas yang ber-AC. Pendidikan adalah tentang membangun ruang-ruang belajar di setiap sudut tanah yang mungkin terlupakan. Pendidikan adalah tentang membuka mata dan hati untuk melihat bahwa setiap anak adalah bintang yang hanya perlu diberi ruang untuk bersinar.
Mari kita lihat perjalanan Salumaratte sebagai sebuah cermin. Cermin yang mengingatkan kita bahwa jarak, meskipun tampak jauh, tidak akan mampu menghentikan semangat yang membara. Dan, pada akhirnya, dalam setiap tetes keringat yang jatuh di jalanan berdebu itu, terdapat kebahagiaan yang tak terhingga, sebuah kebahagiaan yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang berani berjalan menuju masa depan, meskipun jalannya penuh dengan tantangan.
Karena pendidikan sejati tidak mengenal jarak. Pendidikan adalah tentang keberanian untuk terus melangkah.
SHALEH PAMOSEANG




