CERPEN | Perjumpaan yang Menggugurkan Tabulaeng

Senja turun perlahan di Batannato, mewarnai langit dengan semburat jingga yang menggantung bagai harapan yang enggan mati. Angin sore menyentuh wajah Tabulaeng, lembut namun dingin, seolah mengingatkan bahwa waktu selalu membawa cerita—baik yang pernah tumbuh, maupun yang tak sempat menjadi.

Ia duduk di sebuah batu besar, memandang lereng tempat pepohonan kecil berdiri jarang. Di sanalah ia pernah menanam “benih”. Bukan benih tanaman, tapi benih harapan—tentang seseorang yang dulu muncul di hidupnya sekejap, namun meninggalkan jejak paling dalam.

Pertemuan itu terjadi bertahun lalu, di sebuah sudut Kota Tua Majene. Tempat yang seolah tak berubah dari masa ke masa: bangunan tua yang rapuh, tangga batu yang berlumut, dan senyum-senyum asing yang lewat tanpa suara. Di hari itu, Tabulaeng melihatnya—gadis berhijab dengan tatapan jernih dan langkah ringan, seakan dunia tak pernah menyakitinya.

Ia hanya melihat sekilas, namun cukup untuk mengubah arah hidup seorang lelaki.

“Siapa dia?” gumam Tabulaeng waktu itu. Pertanyaan yang kemudian berkembang, mengisi hari-hari, dan perlahan berubah menjadi pencarian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia mencari, bertanya, mencoba mengetahui namanya, latar belakangnya, bahkan kebiasaan kecil yang mungkin bisa membantu mengenalnya lebih baik. Setiap serpihan informasi menjadi nyala api kecil di dada, menghangatkan dan menuntunnya.

Dan akhirnya, waktu menjawab.

Ia bertemu kembali dengannya—lebih dekat, lebih jelas, lebih membuat dada berdebar daripada sebelumnya. Di momen sederhana itu, ia menjabat tangannya, dan untuk pertama kalinya ia merasa dunia berhenti sejenak demi dua manusia yang baru belajar saling menatap.

Hari-hari kemudian berjalan seperti langkah hati yang pelan. Tabulaeng mendekatinya dengan santun, karena ia tahu betul betapa halusnya hati gadis itu—sehalus sutra, seputih kapas. Ia takut melakukan kesalahan, takut menyakiti, takut tak mampu menjadi tempat paling aman baginya.

Dan suatu ketika, senja menjelma kabar baik.

Gadis itu membuka hatinya. Tidak luas, tidak tiba-tiba, tapi cukup untuk membuat Tabulaeng percaya bahwa cintanya menemukan tempat berpulang.

Namun kebahagiaan kadang hanya mampir, tidak menetap.

Tak lama setelah itu, semua runtuh. Gadis itu pergi—entah dengan alasan apa, entah karena apa. Yang Tabulaeng tahu hanyalah dadanya pecah, remuk menjadi kepingan yang tak bisa ia hitung jumlahnya.

Dunia kembali berjalan, tetapi Tabulaeng tertinggal.

____

Ia menanam harapan di Batannato. Sebuah simbol. Sebuah doa. Sebuah penantian. Benih itu tak pernah tumbuh—tetap kecil, terdiam, terselip di tanah yang asing dan lereng yang sunyi.

“Benih yang kutanam tak kunjung hijau,” katanya suatu hari.

“Kau tahu, bukan? Itu bukan tentang tanahnya. Tapi tentang luka yang membuatnya berhenti tumbuh.”

360 hari berlalu. Benih itu tetap terlelap, seperti hatinya. Sunyi, tanpa keluh. Tabulaeng hanya berharap bahwa hari ke-361 akan membawa sedikit cahaya, meski redup, meski hanya secuil. Asal tidak gelap lagi.

Dan pada 25 Desember 2022, ia kembali duduk di tempat itu—Batannato. Senja jatuh perlahan. Angin memeluknya. Dan Tabulaeng tersenyum kecil.

Mungkin bukan tentang dia lagi.

Mungkin bukan tentang kehilangan.

Mungkin hanya tentang menerima—bahwa beberapa cinta memang datang hanya untuk mengajarkan arti ketabahan.

Ia memejamkan mata.

Di senja Batannato, ia akhirnya merelakan.

TABULAENG

Penulis: TBEditor: Red