Pamsimas Mangkrak di Desa Indobanua: Air Tidak Mengalir, Uang Negara Hilang

Foto, bendungan penyaluran air yang ambruk sebelum digunakan di dusun popanga.

Mamasa, Sulawesi Barat – Harapan warga Desa Indobanua, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, untuk mendapatkan air bersih melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) kini terhenti di tengah jalan. Dua proyek Pamsimas yang dimulai pada Juni 2024 dengan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian PUPR, terkatung-katung. Hingga Mei 2025, kedua proyek tersebut tetap mangkrak.

Di lapangan, yang terlihat hanya pipa-pipa yang tergeletak begitu saja, meteran air yang mulai berkarat, dan bendungan yang ambruk sebelum sempat difungsikan. Lokasi proyek di Dusun Popanga dan Dusun Palado kini menjadi bukti nyata dari kegagalan program pemerintah.

Foto pipa yang berserakan, hampir di sepanjang jalan dusun Popanga

“Proyek ini dimulai dengan semangat besar, tapi kenyataannya tidak ada yang berubah. Pipa dan meteran air berserakan, sementara bendungan yang dibangun malah runtuh. Kami jadi bingung dan kecewa,” kata seorang warga Popanga yang enggan disebutkan namanya. (10/5/2025)

Proyek ini, yang seharusnya memberikan akses air bersih kepada masyarakat desa yang selama ini kesulitan mendapatkan pasokan air, ternyata berakhir dengan kerugian. Di samping itu, proyek yang menggunakan dana negara sebesar Rp 750 juta per titik tersebut gagal menuntaskan pekerjaannya sesuai jadwal. Bendungan yang menjadi sumber utama pasokan air di Dusun Popanga hancur sebelum di fungsikan, tak pernah mengalirkan air yang dijanjikan.

Kondisi semakin memburuk ketika ditemukan bahwa pekerja lokal yang terlibat dalam proyek ini belum menerima gaji mereka. Tujuh orang pekerja mengaku belum dibayar dengan masing-masing hak upah sebesar Rp 1 juta. “Kami sudah bekerja keras sejak awal, tapi sampai sekarang tidak ada yang dibayar. Kami bingung harus mencari siapa,” kata salah satu pekerja yang terlibat dalam proyek tersebut.

Kegagalan yang Mengguncang Warga

Program Pamsimas seharusnya menjadi solusi atas masalah air bersih di desa. Dana yang digelontorkan semestinya memperbaiki kehidupan warga yang selama ini mengalami kesulitan air bersih. Namun kenyataan di lapangan berbeda. Proyek ini malah menambah panjang daftar kegagalan proyek pembangunan yang terabaikan, mengabaikan hak dasar masyarakat atas akses air bersih.

Tidak hanya kegagalan fisik proyek, tetapi juga kelalaian dalam hal transparansi. Tidak ada papan informasi proyek yang dipasang, dan warga tidak mendapatkan penjelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas proyek yang terhenti ini. “Kami tahu ada anggaran negara yang masuk, tapi kami tidak tahu ke mana uang itu pergi. Proyek ini dibiarkan mangkrak tanpa penjelasan,” ungkap seorang warga yang lain.

Pemerintah Terkesan Diam

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pelaksana proyek mengenai mengapa proyek tersebut bisa mangkrak. Dinas PUPR Kabupaten Mamasa yang bertanggung jawab atas proyek ini juga belum memberikan tanggapan terhadap permintaan konfirmasi. Warga dan aktivis setempat mendesak agar pihak terkait memberikan penjelasan dan bertanggung jawab atas kegagalan ini.

Muhammad Ikbal, aktivis yang turut memantau proyek tersebut, menilai bahwa mangkraknya Pamsimas di Desa Indobanua adalah bukti nyata dari buruknya pengelolaan dana negara. “Ini jelas proyek gagal. Pemerintah dan pelaksana proyek harus segera bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal kerugian negara, tetapi juga soal hak dasar warga untuk mendapatkan air bersih,” ujar Ikbal.

Desakan Audit dan Penegakan Hukum

Aktivis dan masyarakat mendesak Inspektorat, BPK, dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan. Mereka meminta agar dilakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan anggaran, serta memastikan bahwa hak-hak pekerja yang terabaikan dapat diselesaikan dengan adil.

“Jika proyek seperti ini dibiarkan tanpa penindakan, ini akan menjadi preseden buruk bagi pengelolaan anggaran publik. Ke depan, lebih banyak proyek seperti ini akan menambah penderitaan warga,” tambah Ikbal.

Bagi warga Desa Indobanua, kegagalan Pamsimas adalah pukulan telak. Mereka yang berharap air bersih sebagai bagian dari kemajuan, justru mendapat kenyataan pahit: proyek yang tak selesai, hak yang tak terpenuhi, dan janji yang hilang begitu saja.