Palado Juga Indonesia

Potert Palado. (ist)

Balada romantika Dajang-Tulisangngondo pernah masyhur di pelosok-pelosok Mamasa. Menjadi mantra pengantar tidur paling ampuh. Kini, kisah itu tak pernah terdengar lagi, walau sayup-sayup.

Di Palado misalnya, kampung terluar sebelah barat Mamasa. Sekitar 18 kilometer dari ibukota kecamatan mambi. Disana, hikayat Dajang-Tulisangngondo pernah tersohor. Namun kisah roman ini tak lagi ditemukan di tanah yang paginya beselimut embun. Jejaknya raib, Seperti kepercayaan kepada negara yang semakin samar.

Tak ada yang berubah di Palado, selain kisah roman tersohor yang telah hilang tak berjejak. Kesenjangan dan ketimpangan masih seperti dulu, ia tetap bertahan, tanah ini menjadi kediaman abadi untuknya.

Walau begitu, tak ada kesah yang teramat disana. Abai dari perhatian negara tak membuat masyarakatnya berkecil hati, tawaran kesejahteraan sudah menjadi sarapan pagi mereka. Walau itu hanya hembusan angin surga para politisi untuk mendulang suara.

Saya mendapat kabar dari seorang teman, ia penduduk asli di Palado. Katanya PLT desa Indonanua, Desa yang Palado terdapat didalamnya selama menjabat hampir setahun ini baru sekali berkunjung kesana.

Palado memang amat terpencil juga terisolasi. Tapi bukan berarti tidak perlu di perhatikan, masyarakat disana juga memiliki hak yang sama seperti yang lain. Meraka juga pewaris sah Republik ini. Palado juga Indonesia.

Penulis: Opini |Achmad Faisal