Sekati.id,MAJENE—Di bawah langit yang sama, di tanah yang diwariskan oleh para leluhur dengan cucuran keringat dan darah, kami berdiri—warga Popenga—dengan hati yang mulai sesak. Bukan karena hujan deras atau angin ribut, tapi karena badai yang datang dari dalam rumah kita sendiri.
Desa Popenga, tanah yang dulu penuh harmoni, kini diguncang oleh dugaan-dugaan yang membuat nurani terusik. Isu korupsi bukan sekadar kabar, tapi menjadi luka yang diam-diam merayap ke dalam hati masyarakat. Saat kami bertanya, bukan karena ingin mengacau. Kami bertanya karena kami peduli. Karena kami cinta.
Namun, di tengah gejolak ini, kami merasa sendiri. Pemerintah desa masih belum membuka telinga sepenuhnya. Dan yang lebih menyayat lagi—tokoh adat, tokoh yang selama ini kami anggap pilar utama kehidupan desa, seolah diam. Seolah menonton dari jauh, ketika api mulai membakar rumah bersama.
Di mana suara adat? Di mana langkah lembaga adat yang dulu begitu dibanggakan?
Adat bukan hanya ucapan saat upacara. Ia adalah detak jantung kehidupan. Ia adalah suara arwah leluhur yang diwariskan untuk menjaga desa dari kehancuran moral. Tapi jika hari ini, ketika desa sedang diuji, tokoh adat tak bersuara, tak bergerak—maka kami bertanya dengan penuh haru: masih adakah jiwa ada’ tuho itu hidup di tengah kita?
Kami, warga Popenga, menaruh hormat yang besar pada tokoh adat. Tapi hormat itu bukan tanpa syarat. Hormat itu datang karena mereka dianggap penjaga nilai, bukan sekadar pewaris gelar. Jika mereka memilih diam ketika kebenaran dipertaruhkan, lalu kepada siapa kami harus mengadu?
Masalah APBDes, honor guru-guru PAUD dan TK, adalah soal tanggung jawab. Mereka adalah pelita generasi masa depan, tapi hak-haknya pun dipertanyakan. Kami bertanya bukan untuk menghancurkan, tapi agar desa ini tetap hidup, tetap jujur, tetap manusiawi.
Tokoh adat harus turun gunung. Jangan biarkan Popenga larut dalam kecurigaan dan kegelisahan. Ini bukan soal politik. Ini soal hati nurani. Soal menjaga warisan yang lebih tua dari semua peraturan pemerintah: warisan nilai kebenaran.
Kalau adat benar-benar ada, maka inilah saatnya ia bicara. Berdiri. Menjadi penengah. Menjadi pelindung. Menjadi suara yang tak bisa dibeli, tak bisa diatur, dan tak bisa diam saat rakyat menangis.
Kami mengetuk pintu hati para leluhur, semoga suara kami sampai. Dan semoga mereka yang diberi amanah adat, tak menutup telinga dan mata.
Untuk Popenga, tanah yang kami cintai melebihi diri kami sendiri—jangan biarkan luka ini menjadi warisan baru.
Saya yang menulis ini adalah orang yang tak mesti dianggap lagi sebagai keluarga Popenga. Berlumuran dosa dan salah.
Tetapi dari balik ruangan kecil ini, saya menaruh rindu dan haru atas apa yang terjadi pada tanah leluhur ku.
Anak Kandung Desa Popenga




