Parepare—Pasangan suami istri asal Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Bapak Yunus dan Ibu Janaria, terpaksa menjalani perawatan pribadi di rumah mereka tanpa bantuan medis yang memadai. Keduanya telah lama mengidap penyakit, namun keterbatasan biaya membuat mereka tak lagi mampu melanjutkan pengobatan ke rumah sakit.
Kondisi ini menggugah kepedulian sejumlah mahasiswa asal Sulawesi Barat yang sedang menempuh studi di Parepare. Mereka membentuk Aliansi Kolaborasi Kemanusiaan, dan turun ke jalan menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan pasangan lansia tersebut.
Akmal Muhajir, koordinator lapangan aksi kemanusiaan itu, mengatakan gerakan ini lahir dari rasa empati dan keprihatinan terhadap kondisi warga di kampung halaman yang luput dari perhatian pemerintah daerah.
“Ada enam organisasi kemahasiswaan dan kedaerahan yang tergabung dalam aliansi kolaborasi kemanusiaan, yaitu HMI Komisariat STAIN Parepare, APPM Polewali Mandar, HIMPMAT Kalimantan Selatan, HPMM Majene, SEMA FUAD IAIN Parepare, dan HMPS Manajemen Dakwah IAIN Parepare,” kata Akmal, Jumat (18/10).
Menurutnya, gerakan solidaritas ini muncul karena pemerintah Kabupaten Mamasa dinilai belum hadir memberikan perhatian terhadap masyarakat di pedalaman.
“Gerakan ini didasari rasa empati karena pemerintah kabupaten Mamasa tidak memperhatikan orang tua kami di Desa Pamoseang. Jadi, kami bergerak karena kemanusiaan,” tambahnya.
Ahmad Faisal, salah satu penghubung lapangan, mengatakan hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa.
“Sampai hari ini belum ada respon dari Pemda Mamasa. Saya baru berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Pemerintah Desa Pamoseang untuk pengecekan DTESN Bapak Yunus dan Ibu Janaria. Alhamdulillah, Pemdes Pamoseang merespons dengan sigap, begitu juga dengan Dinsos Mamasa. Rencananya saya akan bertemu Kadis Sosial Mamasa hari Senin mendatang,” ujarnya.
Faisal menambahkan, jika dana bantuan sudah terkumpul, pihaknya akan segera membawa pasangan lansia itu untuk menjalani pengobatan lanjutan.
“Rencana kami setelah dana terkumpul, Bapak Yunus dan Ibu Janaria akan kami bawa ke rumah sakit—entah ke RSUD di Mamuju atau kembali ke Polman. Kami masih berkoordinasi dengan keluarga dan jejaring sosial agar penanganannya tepat,” katanya.
Aksi penggalangan dana yang dijadwalkan berlangsung pada 25–26 Oktober mendatang di Parepare ini, menurut Akmal, tidak sekadar bentuk solidaritas, tetapi juga kritik terhadap lambannya respons pemerintah terhadap warga sakit di wilayah terpencil.
“Ini bukan hanya soal membantu, tapi juga mengingatkan negara agar hadir untuk rakyatnya,” pungkas Akmal.




