Sastra  

Menuju Pelabuhan Edy & Ica

“Selamat malam, wahai dingin. Lahaplah penatku malam ini.”

Begitu kalimat pertama yang kutulis sebelum seluruh ingatan tentang Edy meluber kembali.

Temanku itu pernah berkata kepadaku, dengan suara yang selalu terdengar seolah ia menatap jauh ke cakrawala:

“Merantaulah. Tapi ingat, pulangmu selalu dirindukan.”

Sederhana, namun aku tahu beratnya kata itu lahir dari hati yang penuh gundah—hati seorang perantau yang tak pernah sepenuhnya pulang.

Aku mengenal Edy sebagai seseorang yang tampak selalu kuat. Tapi tahun 2022 menguji keteguhan itu.

Ia datang kepadaku suatu sore, wajahnya redup seperti senja yang enggan tenggelam.

“Aku lelah, Chan,” katanya.

Hanya dua kata, namun cukup untuk membuatku tahu bahwa langkahnya mulai goyah di kampus tempat ia menuntut ilmu.

Hari-hari setelah itu menjadi saksi bisu.

Ia berjalan dengan kepala penuh asa dan cita, tetapi juga penuh kerumitan yang ia sendiri tak mampu jelaskan.

Ia sering berkata, “Rumit, serumit-serumitnya. Aku bahkan tak tahu di mana awal dan ujungnya.”

Namun ia tetap berjalan.

Seperti seseorang yang menyeberangi jembatan kabut: tak yakin apakah tanah di seberang benar-benar ada.

Di tahun ini Edy belajar satu hal penting:

“merantau bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang mencari diri sendiri yang hilang.”

Ia merantau pada pagi dan sore, mengejar ilmu dan harapan.

Tapi malam hari pun tak diberi hak tenang; pikirannya tetap melalang buana, seolah tak pernah sampai pada tujuannya.

“Chan, malam pun tak memanggilku tidur.

Aku masih merantau, bahkan ketika aku terpejam.”

Aku hanya bisa menuliskan segalanya, menjaga kisahnya agar tak hilang ditelan hari.

Mungkin memang itu tugasku sebagai penulis yang ia percayai:

menjadi saksi yang diam namun tak lalai.

Ada sesuatu yang berubah pada diri Edy tahun itu.

Di tengah semua kekalutan, sebuah nama mulai menetap di hidupnya.

Ica.

Ia menyebut nama itu dengan cara yang berbeda, seperti seseorang menyebut rumah.

“Aku tak tahu apa ini cinta atau sekadar singgah, Chan,” katanya sembari tersenyum kecil.

“Tapi aku ingin percaya, bahwa bukan kebetulan dia datang.”

Hari-harinya mulai lebih ringan, walau tidak sepenuhnya bebas dari gelisah.

Setiap helaan napasnya mengandung sebuah doa yang perlahan menghangatkan dirinya yang lama membeku.

Aku tahu, sesuatu sedang tumbuh baik-baik di dalam dirinya.

Dan tibalah tahun ini.

Tahun di mana Edy akhirnya berdiri di depan pintu masa depan yang ia pernah takuti.

Ia melamar Ica.

Pertama kali ia menceritakannya, suaranya bergetar tak karuan, tetapi matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan kembali mainan lamanya yang hilang.

“Chan… aku melamar dia. Aku tak tahu apa ini akhir dari gundah, atau awal gundah yang lain. Tapi aku harap, semoga kami memang berjodoh.”

Dan malam itu, ketika aku kembali menulis kisahnya, aku berbisik pada dingin yang selalu setia mendengar:

“Wahai dingin malam ini, bawalah kabar yang baik tentang dia, tentang akhir langkah ini.”

Kini, kisah Edy kutulis kembali di sini—dari 2022 hingga 2025—dengan segala kerasnya gelombang dan lembutnya harapan.

Mungkin hidupnya belum selesai.

Mungkin gundahnya belum sepenuhnya reda.

Tapi ia telah berjalan jauh, dan tak ada langkah yang sia-sia.

Di akhir cerpen ini, aku, Tiger Chan, ingin percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan pelabuhan terbaik bagi Edy dan Ica.

Dan bila pun angin kembali mengguncang langkahnya,

aku tahu satu hal: Ia tak lagi berjalan sendirian.

TIGER CHAN