SulbarUpdate.com, MAJENE-Salah satu tokoh pemuda di Desa Lombang Timur yang telah banyak mengorbankan waktunya untuk mengabdi di tanah kelahiranya adalah Ardi. Perjalanan hidupnya yang panjang dituangkan ke dalam biografi yang lengkap mengenai dirinya.
Untuk mengetahui secara singkat, berikut adalah biografi tokoh muda Ardi.
Ardi lahir di Lombang 6 Januari 1989. Ia dibesarkan oleh keluarga sederhana dengan latar belakang orang tua sebagai petani. Masa kecilnya ia habiskan di beberapa lembah dan gunung di wilayah Lombang. Hal itu karena kedua orang tuanya adalah petani ladang yang berpindah-pindah.
Tetapi kondisi seperti itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menempuh pendidikan. Dengan tekad yang kuat Ardi menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri Mamuju.
Sejak saat itu, ia kembali ke kampung halaman untuk bergerak dalam pemerintahan desa sebagai Sekretaris. Dari situlah ia banyak melibatkan dirinya dengan urusan pelayanan kepada masyarakat. Tidak tanggung-tanggung pengabdiannya. Selama enam tahun mengabdi sebagai pelayan masyarakat desa, ia kemudian mencalonkan diri sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Dan akhirnya dirinya terpilih sebagai anggota BPD Desa Lombang Timur.
Hingga saat ini sosoknya dikenal baik oleh semua kalangan di desanya. Ia dikenal dengan pribadi yang sederhana tetapi selalu terdepan jika menyangkut persoalan masyarakat.
Melihat Lombang Timur Lebih Dekat

Setelah lama berkeliling Kabupaten Majene, tibalah saya di sebuah desa yang memiliki banyak potensi. Di Desa Lombang Timur, Kecamatan Malunda, saya disambut hangat oleh salah satu tokoh muda yang telah saya tuliskan biografi singkatnya di atas. Kami ngobrol santai, hingga merembes ke masa depan desanya.
Ardi banyak bercerita tentang gambaran desa yang memisahkan diri dari Desa Lombang sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Majene Nomor 7 Tahun 2007 lalu. Desa yang terbilang masih sangat muda. Katanya ia ingin masa depan desa Lombang Timur lebih baik kedepannya.
“Saya banyak keresahan dengan kondisi desa saya. Sejak berdiri sudah ada beberapa aspek yang berubah, tetapi saya punya harapan lebih dengan kondisi sumber daya alamnya yang cukup banyak,” begitu curhatan Ardi, Selasa (28/3/23).
Dari waktu yang tidak singkat itu, saya mengetahui banyak tentang Lombang Timur. Pada uraian singkat berikut ini, saya menulis tentang Lombang Timur dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai narasumber, termasuk Ardi.
Pembaca yang budiman, saya sendiri pun terbilang sering mengunjungi desa yang dikenal dengan penghasil Durian.
Di Kabupaten Majene, Desa Lombang Timur adalah salah satu Desa Penghasil Durian yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Ditambah lagi pesona air terjunnya yang memikat para penikmat wisata.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, definisi desa menurut undang-undang adalah:
“Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah dan berwenang untuk mengatur serta mengurus urusan pemerintahan.”Secara etimologis kata desa berasal dari bahasa sansekerta, yaitu deca yang diartikan sebagai tanah air, kampung halaman, atau tanah kelahiran.
Secara geografis, desa atau village yang diartikan sebagai “a groups of houses or shops in a country area, smaller than and town“.
Dari arah perbincangan saya dengan Ardi, ia banyak gagasan yang mengarah kepada tanah kelahirannya itu. Menurutnya, sudah menjadi tanggung jawab pemuda untuk menyumbangkan tenaga dan pemikiran demi masa depan kampung halaman. Dan menjadi pemimpin desa adalah salah satu pilihan yang baik.
“Lombang Timur saat ini masih kekurangan pangan. Akibatnya beberapa dari warga harus menggantungkan hidup di perantauan,”imbuhnya.
Dari potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, Lombang Timur punya harapan yang baik. Letak geografisnya sangat memungkinkan. Tanah yang subur dan aliran sungai yang tidak sedikit sangat berpotensi untuk mengembangkan pertanian,perkebunan dan perikanan .
Menurut Ardi, beberapa potensi itu adalah peluang besar untuk masyarakat Lombang Timur.
Potensi Wisata Lombang Timur

Seperti yang saya gambarkan sebelumnya, di Lombang Timur terdapat tiga sungai yang dengan sendirnya telah menjadi salah satu tujuan wisata. Baik itu lokal atau pun dari luar desa.
Di Dusun Salutakkan misalnya. Air Terjun Talinga Salassang telah menjadi magnet bagi wisatawan. Dari data yang saya himpun dari berbagai sumber, setiap hari libur setidaknya tidak kurang dari 50 orang yang berkunjung. Bahkan lebih ramai lagi pada waktu tertentu, seperti libur hari raya.
Pesona air terjun ini pernah saya abadikan dalam tulisan sebelumnya pada tahun 2016 lalu. Jika dikelola dengan baik maka potensi tersebut adalah aset berharga bagi masyarakat Lombang Timur.
Kembali ke Ardi. Akhir dari perbincangan kami, ia mengharapkan lahirnya sosok pembaharu di desanya yang fokus dengan masalah pangan. Karena menurutnya, hal itulah yang sangat penting dalam kelangsungan hidup masyarakat. Dan tidak banyak lagi warga yang merantau untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
“Kita harus berupaya seacara kolektif untuk membangun kesadaran tentang bagaimana meningkatkan produksi pangan lokal desa. Itu harapan saya,” tutup Ardi.
Penulis : Shaleh Muhammad Sr




