Membedah Tipologi Partai Politik ala Kitschlet

Muhammad Gaus. (Ist)

MELIHAT ORIENTASI BERPARPOL KITA HARI INI

Penulis : Muhammad Gaus

Partai politik adalah organisasi yang bisa dijadikan media komunikasi politik oleh masyarakat dalam menyalurkan berbagi kepentingan kepada pemerintah. Sehingga dengan fungsi ini parpol mempunyai peran sentral dalam dalam perpolitikan, khususnya demokrasi perwakilan. Menyoal parpol di Indonesia, menurut hemat penulis partai politik telah mampu menjadi sarana politik untuk dijadikan kendaraan politik setiap Pemilu. Fungsi rekrutmen politik seperti itu telah lama dipertontonkan oleh elit parpol karena memang sejatinya parpol memang dibentuk untuk maksud tersebut. Tetapi perlu dilihat apakah proses rekrutmen tersebut melalui mekanisme yang berlaku ditubuh parpol atau ia adalah kader “siluman”.

Dari beberapa fungsi partai politik kecenderungan partai di Indonesia hanya tertarik untuk mengorientasikan diri pada aspek mencari kekuasaan sebagai ejawantah parpol sebagai kendaraan politik, tetapi acuh terhadap pendidikan politik, artikulasi dan ageregasi kepentingan masyarakat, sebagai stabiltas konflik dan lain-lain. Hal demikianlah menurut penulis menjadi anomali tersendiri di tubuh setiap parpol. Entah karena kebanyakan adalah partai baru atau memang tradisi berpartai para kader memang seperti itu. Bahkan fungsi rekrutmen parpol cenderung tidak sesuai prosedur karena tiap calon yang muncul setiap perhelatan pemilu sebagian bukan kader tulen parpol, tetapi aktor yang serta merta hadir seperti “siluman” karena diyakini dapat menjadi vote getter.

Sehingga untuk mengelompokkan parpol di Indonesia menurut hemat saya akan sulit sebab idelogi setiap parpol belum bisa dijadikan sebagai bentuk platform atau semacam proposal program kerja yang akan ditawarkan kepada konstituen, sehingga masyarakat dengan mudah mengidentifikasi dirinya atas parpol tertentu. Kalaupun harus mengelompokkan maka saya kira partai politik kita masih berada pada garis chacht all, yaitu partai yang mencoba menarik dukungan dari elemen semua elemen masyarakat.

Selanjutnya menurut Herbert Kitschlet ada tiga tipologi partai politik yaitu: partai programatik, partai kharismastik, dan partai klientelistik. Kitschlet menjelaskan bahwa partai programatik adalah partai yang mendasarkan pekerjaannnya pada program partai secara khusus. Partai memobilisasi pemilih menurut pemilahan sosial dan isu-isu tertentu yang memiliki artikulasi yang eksplisit dalam platformnya. Tujuan dan usulan kebijakan yang dicantumkan di dalam platformnya tersebut mengambil materi dari sekelompk nilai idelogi yang dimiliki oleh partai yang bersangkutan. Hal inilah yang membedakan program mereka dan mudah dikenali.

Partai kharismatik yaitu partai yang ditentukan oleh kepemimpinan seseorang karismatik. Mereka tidak menyajikan pilihan-pilihan program kepada konstituensi. Politik direduksi pada dimensi pribadi. Partai seperti ini kelangsungan hidupnya ada pada kelangsungan hidup (politik) dari seseorang saja. Terakhir partai klientalistik adalah partai yang dibangun atas dasar hubungan patronase . Secara resmi, mereka bertindak seolah-olah mengikuti aturan main. Misalnya, bertujuan untuk memenangkan produkasi barang-barang kolektif, namun kenyataan mereka lebih condong pada pribadi, keuntungan partisan, dan jasa untuk klien setia mereka.

Dari penjelasan tiga tipologi parpol di atas menurut penulis tipologi atau karakteristik parpol yang paling ideal adalah partai politik programatik. Alasannya sederhana karena sejatinya parpol adalah organisasi yang memilki basis pembentukan yang selanjutnya disebut ideologi. Basis pembentukan tersebut selanjutnya berubah menjadi basis perjuangan dan platform sehingga dengan mudah para pemilih bisa melakukan diffrensiasi atas parpol tertentu. berikutnya tipologi partai programatik juga lebih mudah terlembaga dengan baik sebab basis perjuangan berdasarkan idelogi bukan faktor-faktor kekuasaan,ekonomisme dan lain-lain yang sifatnya semu dan tidak fundamental.

Fenomena kader loncat pagar (pindah partai) adalah salah satu contoh bahwa idelogi partai tidak ditanamkan secara baik kepada para kader dengan kata lain ideologi tidak menjadi perhatian serius. Oleh sebab itu idealnya partai harus menjadikan ideologi sebagaik titik berangkat atas segala aturan main ditubuh setiap parpol.

Setiap karakteristik partai yang dijelaskan di atas seyogyanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Untuk mengananalisis kekurangan dan kelebihannya, penulis berangkat dari penjabaran singkat dari Kitschelt terkait tipologi partai.

Partai programatik
Partai ini menurut penulis partai yang paling ideal karena titik berangkatnya dari idelogi sebagai basis pembentukan partai tetapi bukan berarti ia tidak memiliki celah atas kekuranga tertentu. kekurangan dari tipe partai ini adalah akan sulit mendapatkan kader dan kurang atas dukungan di tengah terjangan politik praktis. Kelebihannya kader dari partai ini akan berorientasi pada pengandian masyarakat dibandingkan memberi rente dalam jabatan politik tertentu.

Partai kharismatik
Partai ini adalah partai milik orang yang kharismatik yang memiliki segala sumber daya dan dijadikan panutan oleh semua kader sehingga faksi-faksi di dalam tubuh partai sulit terbentuk sebab selalu dibantahkan oleh karisma sang pemimpin partai. Kekurangannya ia tidak bisa bertahan dalam hal eksistensi diri sebab kehidupan partai disandarkan pada aktor politik tertentu.

Partai klientelistik.
Partai semacama ini adalah partai yang berdiri atas kepura-puraan bekerja untuk semua konstituen tetapi kenyataanya demi untuk kelompoknya saja. Kelebihannya memiliki semangat yang kuat untuk mendapatkan kuasa tetapi lebih banyak memiliki kekurangan sebab ia akan menjadi parasit dalam dunia demokrasi.

Olehnya demikian, Pandangan Kitschlet bisa kita jadikan alat analisis untuk mengidentifikasi alasan keberadaan parpol yang ada hari ini. Setelah itu diffrensiasi akan dengan tepat dan mudah kita lakukan. Arah pemerintahan dari parpol pemenang pemilu juga bisa kita tebak.

 

 

Penulis: rlsEditor: Red