MAJENE,-Memaknai Halal Bihalal dalam momentum perayaan Hari Raya Idul Fitri bukan lagi hanya sekadar saling memaafkan dengan keluarga, sahabat dan ummat Muslim pada umumnya. Bukan pula sebagai acara seremonial yang biasanya dilaksanakan di aula atau panggung terbuka dengan rangkaian perlombaan dan pentas-pentas pertunjukan lainnya.

Akan tetapi bagi sekelompok pemuda di Sulawesi Barat menjadikan Halal Bihalal sebagai momentum untuk kembali bangkit dan memikirkan masa depan daerah yang lebih baik. Gerakan pemuda sebagai penerus perjuangan kembali digaungkan setelah lama tak terdengar disebabkan oleh pelbagai persoalan kehidupan.
Di antara dua perbatasan kabupaten, kelompok kecil pemuda yang dinamai Sambasse, Urekang-Batannato Desa Popenga, Majene dan Misi Pamoseang-Indobanua di Desa Indobanua dan Pamoseang, Mambi, Kabupaten Mamasa. Dengan berbagai latar belakang pemuda, mereka memulai gerakan kolektif untuk merencanakan peradaban mereka sendiri.
Di Desa Popenga, Pemuda Sambasse memulai gerakan dengan berbagai kegiatan keagamaan, kesenian dan olah raga yang dikemas dalam “Gema Takbir” dengan tema, Gerakan Persatuan Pemuda dalam Menentukan Masa Depan.
Ketua Panitia, Muliadi, mengungkapkan, bukan hal mudah untuk memulai itu semua, setelah bertahun-tahun lamanya Idul Fitiri berlalu begitu saja, tanpa Halal Bihalal. Tentu memulainya butuh usaha yang keras dan persiapan yang matang.
Tetapi berkat persatuan Pemuda Sambasse dan dukungan pemerintah dan seluruh masyarakat akhirnya Gema Takbir dapat terlasana dengan baik.
“Ini berkat usaha kawan-kawan dan dukungan semua tokoh masyarakat dan pemerintah desa,” singkatnya. (18/04/24).
Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Popenga, Bahtiar, mengapresiasi gerakan Pemuda Sambasse. Menurutnya, seperti itulah seharusnya yang dilakukan oleh pemuda.
“Saya sangat berterima kasih kepada penggagas kegiatan ini, Insya Allah tahun depan kami akan melakukan interfensi anggaran untuk lebih lancarnya kegiatan pemuda,” ungkap Bahtiar.
Dukungan lain juga datang dari tokoh masyarakat Desa Popenga. M Yunus, salah satu Tokoh Adat yang awalnya ragu dengan gerakan pemuda akhirnya mendukung penuh.
“Awalnya saya tidak terlalu yakin, sebab jumlah anggaran yang sangat sedikit, tetapi lagi-lagi pemuda sangat luar biasa. Dengan persiapan begini acara bisa spektakuler dan selesai dengan baik. Semoga tahun depan bisa kita bantu bersama semua masyarakat,” jelasnya.
Pemuda Sambasse adalah komunitas pemuda yang berfokus pada isu-isu sosial, agama, pendidikan, lingkungan, budaya dan masa depan pemuda. Meski masih belia, Sambasse telah berkontribusi banyak kepada gerakan pemuda khusunya di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.(*)




