MAMUJU — Dukungan kemanusiaan terus mengalir untuk pasangan lansia asal Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa. Bapak Yunus dan Ibu Janaria yang tengah berjuang melawan sakit tanpa biaya dan tanpa bantuan medis layak. Setelah Parepare dan Majene, kini giliran Ikatan Pelajar Mahasiswa Pitu Ulunna Salu (IPMAPUS) yang turun ke jalan di Kota Mamuju.
Aksi solidaritas ini digelar untuk menggalang dana membantu biaya pengobatan pasangan tersebut. Ketua Bidang Pendampingan Masyarakat IPMAPUS, Muh. Kadri, mengatakan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan mendalam para kader terhadap kondisi sosial di kampung sendiri.
“Kader-kader IPMAPUS sangat prihatin melihat kondisi Bapak Yunus dan Ibu Janaria yang sedang terbaring lemah. Karena itu, kami mengambil inisiatif melakukan aksi sosial selama dua sampai tiga hari ke depan untuk membantu meringankan beban mereka,” ujar Kadri Jumat, (31/10).
Gerakan IPMAPUS di Mamuju melengkapi rentetan solidaritas mahasiswa dari berbagai daerah. Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa Sulbar di Parepare dan IPMKM di Majene telah lebih dulu turun ke jalan untuk tujuan yang sama, membantu sesama ketika pemerintah daerah tampak abai.
Koordinator donasi, Ahmad Faisal, menegaskan bahwa hingga kini belum ada respon resmi dari Pemerintah Kabupaten Mamasa.
“Sampai hari ini belum ada tanggapan dari Pemda Mamasa. Kami baru berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Pemdes Pamoseang untuk pengecekan data DTESN Bapak Yunus dan Ibu Janaria.
Faisal juga menjelaskan bahwa setelah dana mencukupi, pihaknya bersama keluarga akan memutuskan langkah terbaik untuk pengobatan, baik di RSUD Mamuju maupun di Polewali Mandar.
“Kami masih berkoordinasi dengan keluarga dan jejaring sosial untuk memastikan perawatan yang layak bagi mereka,” tambahnya.
Donasi untuk pasangan lansia tersebut masih dibuka hingga kebutuhan pengobatan terpenuhi. Bantuan dapat disalurkan melalui:
BRI No. Rek: 802601054890530 a.n. IRI (Anak Bpk. Yunus & Ibu Janaria)
Di tengah diamnya pemerintah, gerakan para mahasiswa Sulawesi Barat dari berbagai kota menjadi bukti bahwa nurani rakyat kecil tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika negara absen, solidaritas tetap menemukan jalannya. (*)




