Rakyatta.com- Laki-laki kelahiran Indobanua (Pamoseang) , 26 tahun silam bernama Ihsan Jamilung biasa disapa Ihsan, mahasiswa Syariah Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar angkatan 2019. Ia melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Al-Qur’an di University of Madinah tahun 2022.
“Jangan pernah mendahului apa yang akan terjadi dengan berkata tidak mampu, tidak sanggup, tidak kuat, sebelum ada usaha yang menjadikan dirimu menjadi mampu, sanggup, serta kuat,” ungkap Ihsan saat ditanya tentang prinsip yang membawanya sebagai salah satu peraih beasiswa di negara minyak Saudi Arabia.
Anak kelima dari pasangan Jamilung dan Haramiah, Ihsan lahir ditengah keluarga sederhana. Tinggal jauh dari keramaian kota, hidup dipelosok yang membuat pribadinya kuat dan berkarakter.
Latar Belakang Pendidikan
Di desanya, Indobanua, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat tidak ada Sekolah Dasar Negeri. Hanya ada Sekolah Dasar Swasta tempat dimana ia mengenyam pendidikan dasar. Walau berada di daerah terpencil, SD Swasta Indobanua berhasil menempa muridnya. Ihsan salah satunya, Mahasiswa Universitas Madinah melalui jalur beasiswa berprestasi.
Ia sempat melanjutkan sekolahnya di Madrasah Tsanawiah Mustaqim Pare-Pare Sulawesi Selatan. Usai tamat MTS Ihsan kembali kekampung halaman dan mendaftar di Madrasah Aliyah Talippuki, sekitar sepuluh kilometer dari rumahnya di Indobanua.
Tidak berselang lama, tahun 2019 ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa STIBA makassar. Disinilah cakrawala Ihsan tebuka. Tak butuh waktu lama ia menyelesaikan studynya di STIBA dengan gelar Ihsan Jamilung, SH.
Lantas bagaimana Ihsan mengatur ritme belajar dan hidupnya? menurutnya, ia menyusun rencana peta hidup yang dinamainya dream mapping. Peta yang berisikan impian-impian besar yang akan dicapainya.
“Saya membagi waktu antara kuliah dengan waktu untuk berprestasi. Saya terbiasa menyisihkan 2-3 jam dalam satu hari untuk berfokus pada rancangan untuk menggapai prestasi saya. Sementara untuk belajar selain belajar sendiri saya juga senang membuat kelompok belajar untuk mendiskusikan materi dari dosen,” ungkap mahasiswa dengan IPK 3,62 ini.
Ihsan sadar betul jika ingin maju maka dirinya harus belajar dan berprestasi, apalagi dirinya mengimpikan untuk meneruskan studi ke luar negeri dengan beasiswa. Sebab tak mungkin menggantungkan impiannya tadi kepada kemampuan finansial kedua orang tuanya. Ihsan sudah merencanakan memperdalam ilmu Syariah dan Al-Qur’an agar kelak bisa menjadi pemuda yang bermanfaat bagi agama dan keluarga.
“Alhamdulillah dengan beasiswa ini saya dapat kesempatan mewujudkan cita-cita saya. Bagi teman-teman yang berasal dari keluarga kurang mampu jangan merasa kerdil walaupun secara keaadan ekonomi kita terbatas, jangan pernah membiarkan mimpi-mimpi kita tertidur, tapi bangunkanlah, hingga impian kita menjadi nyata. Ekonomi boleh terbatas, tapi otak dan kemampuan diri kita tak pernah terbatas jadi jangan putus asa. Selama Anda berprestasi maka kesempatan mendapatkan beasiswa selalu ada. Jangan lupa berdoa dan minta restu orang tua,” pungkas Ihsan, pemuda yang saat ini harapan masadepan keluarga, Agama dan Bangsa.
Pesan Ihsan
“Perjalanan hidup tak selalu mulus, terkadang hal itu bisa menyurutkan semangat seseorang sehingga hati dan pikiran menjadi tidak tenang. Bagi kaum Muslim, rasa tak nyaman itu bisa dihilangkan dengan mendekatkan diri pada Allah SWT,” tulisnya dalam pesan singkat kepada penulis. (shm)




