Ibu Muda Nekat Seberangi Sungai Demi Anak, Permatur Desak Pemerintah Perhatikan Infrastruktur di Tutar

Sekati.id,POLMAN—‎Di tengah gemuruh air sungai yang meluap dan langit yang kelabu seakan menangisi nasib pedesaan, seorang ibu muda bernama Marsita, warga Desa Pirian Tapiko, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, membuat keputusan yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Dengan langkah penuh tekad dan tubuh gemetar menahan dingin, ia nekat menyeberangi sungai yang tengah mengamuk—semata-mata demi satu hal: cinta seorang ibu kepada anaknya.

Air sungai yang berlumpur dan arusnya yang deras bukan halangan. Di saat banyak orang akan mundur demi keselamatan, Marsita justru maju. Ia tahu, di seberang sana, anaknya menunggu—lapar, khawatir, dan sendirian.

Aksi heroik ini sontak menggugah perhatian publik. Media sosial dipenuhi dengan simpati dan kemarahan. Simpati kepada perjuangan seorang ibu, dan kemarahan terhadap potret nyata ketimpangan infrastruktur di pelosok negeri. Kecamatan Tutar, seperti banyak wilayah pedesaan lainnya, masih bergelut dengan akses jalan dan jembatan yang memadai—sebuah kebutuhan dasar yang seharusnya tidak lagi menjadi kemewahan.

Marsita bukan hanya ibu. Ia kini menjadi simbol. Simbol dari perjuangan tanpa suara, dari mereka yang selama ini hidup di balik bayang-bayang pembangunan, namun tetap teguh berdiri demi cinta dan harapan.

‎Peristiwa itu terjadi saat tidak ada jalur aman bagi warga untuk menyeberang akibat ketiadaan jembatan yang layak. Marsita terpaksa mempertaruhkan keselamatannya agar dapat mencapai tempat yang lebih aman bersama anaknya.

Sarwan, Ketua Permatur.(Foto:Ist)

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Tutar (Permatur), Sarwan, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut dan meminta pemerintah Kabupaten Polewali Mandar segera mengambil langkah nyata.

‎”Kami mendesak pemerintah kabupaten untuk segera menyediakan jembatan darurat agar kejadian serupa tidak terulang. Kami juga meminta Bupati Polewali Mandar memanggil salah satu oknum dari Dinas BPBD yang telah menyampaikan narasi yang menyakiti hati warga Tutar,” tegas Sarwan, Sabtu (20/09/25).

‎Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan di daerah terpencil. Selain menjamin keselamatan warga, infrastruktur yang memadai juga sangat diperlukan untuk menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah kabupaten maupun Dinas BPBD terkait tuntutan tersebut. (skr/*)