Dunia Olahraga Sepakbola Berduka, Sistem dan Protokol Keamanan Wajib Evaluasi Total

Oleh : Muh. Sibgatullah (Bidang SBO DPD IMM Sulbar)

Innalillahi Wainnailaihi Roji’un, Indonesia berduka, dunia olahraga sepakbola bola berduka atas tragedi usai laga Arema FC Vs Persebaya yang merenggut ratusan korban jiwa suporter Aremania di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 1 Oktober 2022.

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat (DPD IMM Sulbar) menyampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas insiden tersebut.

Tragedi tersebut, meninggalkan duka tak hanya di Indonesia namun juga dunia sepak bola hingga manca negara. Sejumlah tokoh agama, bangsa, elit politik bahkan Presiden Jokowi menyampaikan bela sungkawa dan meminta agar evaluasi total dilakukan.

Mengutip dari Sangpencerah.id pada Minggu (2/10/2022) menjelaskan bahwa sebelum insiden tersebut pertandingan pada babak pertama berjalan dengan baik.

Namun saat jeda istirahat bapak pertama, terjadi 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12 dan 13, namun bisa segera diamankan oleh aparat keamanan.

Saat babak ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak gol ke-3 nya yang membuat skor berubah menjadi 3-2.

Tertinggal satu gol dari Persebaya, Arema FC tampil menyerang dan terus menggempur pertahanan Persebaya. Namun sampai pluit panjang ditiup wasit skor tidak berubah. Dan tim Arema FC harus menerima kekalahan dari rivalnya.

Atas kekalahan itu, suporter terlihat kecewa dengan muka tertunduk lesu. Kemudian mulai diikuti dengan lemparan berbagai macam benda ke lapangan.

Dan kondisi yang mulai tak terkendali para suporter memasuki lapangan sehingga membuat suasana semakin tegang. Sehingga aparat keamanan melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter.

Namun mereka justru mendapatkan perlakuan sangat kejam dan sadis. Mereka dipukul dengan tongkat panjang, ditendang bahkan ada yang mendapatkan pengeroyokan dan sejumlah tindakan kekerasan lainnya. Akibatnya, suasana semakin tak terkendali akibat bentrok aparat keamanan dan suporter.

Melihat para suporter yang semakin panas, aparat keamanan kemudian menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suporter yang ada dilapangan. Silih berganti suporter menyerang aparat dengan lemparan kemudian dibalas oleh aparat dengan tembakan gas air mata.

Terhitung, puluhan gas air mata ditembakkan kearah supporter sehingga hampir semua sudut lapangan dikelilingi gas air mata.

Para suporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh diatas tribun. Mereka berlarian mencari pintu keluar, tapi sayang pintunya penuh akibat banyak suporter yang membuat sesak nafas ditambah dengan gas air mata.

Banyak ibu-ibu, remaja, orang tua dan anak kecil terlihat sesak tidak berdaya, tidak mampu ikut berlari untuk keluar dari stadion.

Inilah awal mula ratusan korban jiwa berjatuhan yang disebabkan tindakan aparat yang seharusnya mengamankan dan melindungi justru mereka jadi musuh bagi para suporter yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.

Mereka hanya berusaha untuk menyelamatkan diri masing-masing, tapi pada akhirnya para suporter menjadi lawan bagi para aparat yang sudah melakukan tindakan sadis dan tidak memanusiakan manusia.

Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang merupakan tragedi kelam dalam sejarah sepak bola bukan hanya di Indonesia bahkan skala internasional. Dalam laporan terakhir detikNews, per Minggu (2/10) siang, jumlah korban tewas mencapai 174 orang.

Ada apa dengan keamanan persepakbolaan Indonesia? Atau apakah orang-orang yang diberi amanah menjadi pimpinan PSSI punya kepentingan politik dan kepentingan golongan?

Semua perlu dievaluasi secara besar-besaran, mulai dari sistem, protokol keamanan dan keselamatan suporter.

Termasuk orang-orang yang punya jabatan di PSSI. Dan yang paling penting adalah perlu ada tindakan tegas dan serius bagi para aparat yang sudah melakukan tindakan represif dan tindakan yang sangat kejam bagi para suporter yang kehilangan nyawa disebabkan kelalaian para aparat itu sendiri.

DPD IMM Sulbar khususnya Bidang Seni, Budaya dan Olahraga (SBO) dengan tegas menyatakan sikap meminta kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi secara besar-besaran terhadap sistem persepakbolaan Indonesia baik secara aturan maupun mereka yang saat ini memiliki amanah dan jabatan yang berkaitan dengan sepak bola Indonesia.

 

INDONESIA BERDUKA, DUNIA OLAHRAGA SEPAK BOLA INDONESIA BERDUKA.

TAK ADA SEPAK BOLA SEHARGA NYAWA MANUSIA