Dari Jalanan Majene, Mahasiswa Mambi Menambal Kelalaian Negara

Ist

Majene — Di tengah sepinya perhatian pemerintah terhadap warganya sendiri, sejumlah mahasiswa asal Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, memilih turun ke jalan. Mereka menggelar aksi penggalangan dana di Kabupaten Majene untuk membantu pasangan lansia asal Desa Pamoseang yang terbaring sakit tanpa perawatan medis memadai.

Pasangan suami istri itu, Bapak Yunus (67) dan Ibu Janaria (57), hidup dalam keterbatasan. Yunus sudah empat tahun menderita pusing berat hingga tak lagi mampu beraktivitas, sementara Janaria mengalami kelumpuhan sebagian tubuh. Keduanya pernah dirawat di RS Andi Depu Polman selama 19 hari, namun karena faktor ekonomi, pengobatan harus terhenti. Kini mereka hanya dirawat seadanya di rumah, tanpa obat resep dokter.

Melihat kondisi itu, Ikatan Pemuda Mahasiswa Kecamatan Mambi (IPMKM) bergerak. Dipimpin ketuanya, Arham, para mahasiswa melakukan penggalangan dana di sejumlah titik jalan utama di Majene. Aksi tersebut menjadi wujud nyata kepedulian di tengah lambannya respons pemerintah daerah.

“Kami tidak bisa menunggu pemerintah bergerak. Ini soal kemanusiaan, tentang bagaimana kita hadir untuk orang tua kita sendiri yang sedang kesusahan,” ujar Arham, Sabtu (26/10).

Arham menegaskan hingga kini belum ada langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Mamasa untuk membantu pasangan lansia tersebut.

“Sudah beberapa hari sejak kabar ini ramai, tapi belum ada tindakan nyata. Padahal mereka warga Mamasa sendiri. Seharusnya pemerintah cepat tanggap, bukan menunggu masyarakat yang turun tangan,” katanya.

Aksi kemanusiaan IPMKM direncanakan berlangsung hingga 28 Oktober 2025, bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda. Menurut Arham, tanggal tersebut dipilih sebagai simbol semangat persatuan dan tanggung jawab moral generasi muda terhadap masyarakatnya.

“Kami ingin menutup aksi ini di Hari Sumpah Pemuda. Ini bukan sekadar penggalangan dana, tapi bentuk perlawanan moral terhadap abainya negara. Kalau pemerintah lambat, maka rakyat harus saling menopang,” tegasnya.

Gerakan IPMKM mendapat dukungan luas dari masyarakat Majene. Setiap rupiah yang terkumpul menjadi simbol kecil dari harapan besar, bahwa solidaritas warga sering kali bekerja lebih cepat daripada kebijakan negara.

“Kami hanya berharap pemerintah benar-benar hadir, tidak sekadar mendengar. Karena di pedalaman seperti Pamoseang, kehadiran negara sering kali hanya terdengar lewat berita,” tutup Arham.