CERPEN | Jejak Samindara dalam Rindu

Buntu Pepana, Saludurian. (Foto: Sulbarupdate 2022)

Pagi itu, udara desa di kaki Gunung Pepana terasa sangat segar, embun masih menggantung di atap daun, dan aroma tanah basah tersisa di jalan setapak yang berdebu. Suara ayam berkokok lembut memecah kesunyian.

Aku duduk di bangku kayu kecil di depan warung kopi keliling milik tetangga, sambil menyeruput kopi hangat, melihat matahari pertama meninju kabut tipis. Di balik asap kopi dan hiruk pasar kecil, mataku tersapu oleh sosokmu: rambutmu tergerai, sorot mata lembut menatap ke arah sungai kecil di sisi desa, di mana pepohonan bambu bergoyang pelan. Namamu: Samindara.

Entah mengapa, detak jantungku seakan mengira: hari ini, sesuatu akan berbeda.

Kau datang menghampiri dengan senyum ramah kecil. “Pagi,” suaramu ringan. Jarang aku mendengar kata semanis itu.

Aku membalas, mencoba tersenyum meskipun lidah membeku. “Pagi. Mau kopi?” tanyaku kaku, sekaligus malu.

Kau mengangguk, lalu kau duduk di sampingku, cangkir kopi di tangan. Aroma kopi dan tanah basah bercampur samar. Kita diam sejenak, hanya mendengar desir angin dan kicau burung di pepohonan dekat sungai.

“Aku baru pulang,” katamu perlahan, matamu tertuju ke arah kaki gunung. “Sudah lama… aku rindu kampung.”

Aku menoleh, menangkap getar halus di suaramu. Bayang masa kecil, rindu pada masa lalu, terukir di sudut matamu. Sesaat aku ingin berbicara, hendak bilang bahwa aku pun merasakan hal yang sama. Tapi kata-kata belum menemukan jalannya.

Seutas senyuman kecil terkuak di wajahmu, lalu kau menatapku. Samindara, namamu terasa seperti harapan baru di pagi buta Sungai Lantebung.

Langit berangsur terang. Bayang pepohonan berubah mengikuti sinar matahari. Kau dan aku duduk bersama — dua insan yang baru saja bersua, di tengah aroma kopi dan tanah desa — seakan dunia berhenti untuk memberi ruang pada detik itu.

Dalam hening itu, aku merasakan: ada sesuatu tumbuh. Bukan sekadar rasa ingin tahu atau kagum. Tapi kehangatan mentah, tumbuh perlahan, seperti embun pagi di daun bambu: lembut, sejuk, penuh harap.

Kita berbicara ringan tentang hal sederhana: hujan terakhir, aroma tanah basah, aliran sungai setelah petang, dan mimpi kecil untuk masa depan. Nada suaramu dan gelak tawamu menenangkan batinku. Tidak ada kepura-puraan — hanya jujur, polos, dan murni seperti udara pagi di Pa’dallean.

Ketika kau berdiri hendak pulang, membawa cangkir kosong, jejak kaki di halaman berdebu. Aku tahu, bahwa pagi itu bukan pagi biasa. Hatiku menendang, berderu dalam dada, berseru: “Inilah awal.”

Di bawah langit Saludurian yang mulai cerah, dengan aroma tanah, kopi, dan harapan baru, aku menatapmu pergi. Senyummu tertinggal, dan bersama senyummu, tumbuh sebuah janji tak terucap: bahwa kau, Samindara, mungkin adalah cahaya bagi perantau yang merindukan pulang.

Dan aku, Lumalong, atau Massenga tidak lagi hanya seorang pengembara. Tapi seseorang yang berharap pada cinta pertama; pada kehangatan sederhana dari sebuah senyuman di pagi desa. (*)

LUMALONG