‎Algoritma Korup dan Mamasa yang Dingin

Gambar : Dokpri

MAMASA — Memantau Mamasa dari kejauhan, lewat sudut pandang mesin telusur dan linimasa media sosial, menghadirkan gambaran yang tampak sejuk tentang Pemerintah Kabupaten Mamasa. Dari beranda yang tertata rapi hingga “dapur” tempat kebijakan diracik untuk kesejahteraan warganya, semua terlihat baik-baik saja. Setidaknya begitulah yang ditampilkan.‎

‎Aroma kesejukan itu bahkan terasa semakin menggoda ketika musim mudik tiba. Ramadhan melambai, para perantau bersiap pulang. Di berbagai platform media sosial dan grup WhatsApp, penyedia jasa travel ramai menawarkan rute perjalanan: Makassar–Mamasa, Makassar–Mambi, Polewali–Mamasa, hingga Mamuju–Mambi–Mamasa. Jalur-jalur itu bukan sekadar rute, melainkan jalan pulang bagi anak-anak Mamasa.

‎Namun perjalanan pulang tak selalu semulus unggahan promosi di layar ponsel.

‎Singgah di Messawa sekitar pukul 15.00, sinyal telepon hilang. Segelas kopi dan sepiring keripik pisang menjadi teman menunggu. Sopir mengeluh karena sulit menjemput penumpang tanpa jaringan komunikasi. Baru memasuki wilayah kecamatan pertama, satu persoalan kecil sudah muncul—dan itu menyentuh langsung kehidupan warga di akar rumput.

‎Sepanjang perjalanan dari Polewali menuju Kota Mamasa, obrolan dengan sesama penumpang mengalir. Curhatan klasik kembali terdengar: petani yang kesulitan mendapatkan pupuk, meskipun disebut-sebut sebagai bantuan gratis. Bagi saya yang selama ini lebih banyak merantau, persoalan itu terasa asing. Namun cerita-cerita itu nyata, bukan sekadar keluhan tanpa dasar.

‎Deretan tuntutan aktivis dan hasil pemeriksaan BPK yang sebelumnya hanya saya lihat sepintas di media sosial, kini terasa lebih konkret. Apa yang dulu saya anggap sekadar “isu yang dimainkan algoritma”, perlahan menjelma menjadi aroma korupsi yang tercium jelas.

Muh Nabir, GARS Sulbar

‎Mudik kali ini menjadi tamparan keras. Selama ini saya menikmati keindahan alam Mamasa setiap pulang kampung—perbukitan yang hijau, udara yang dingin, suasana yang menenangkan. Tetapi di balik kesejukan itu, ada kegelisahan yang tersembunyi. Ada persoalan yang tidak cukup hanya ditenangkan dengan panorama.

‎Algoritma media sosial sering dituduh memperbesar isu atau menggiring opini. Namun pengalaman perjalanan ini mengajarkan bahwa tidak semua yang muncul di linimasa adalah sekadar permainan sistem. Kadang, algoritma hanya memantulkan kenyataan yang memang sedang terjadi.

‎Mamasa tetaplah tanah yang dingin dan indah. Tetapi kesejukan alam tidak boleh menjadi selimut yang menutupi persoalan tata kelola. Jika benar ada yang salah di dapur kebijakan, maka yang pertama merasakan dampaknya adalah petani, sopir, dan warga kecil di kampung-kampung.

‎Mudik seharusnya menjadi momen pulang untuk merayakan kebersamaan. Namun kali ini, ia juga menjadi momen pulang untuk membuka mata.

‎Dan mungkin, sudah saatnya kita tidak hanya menikmati Mamasa sebagai kampung halaman yang indah, tetapi juga ikut mengawasi agar kesejukannya tidak tercemari oleh praktik-praktik yang menghanguskan kepercayaan rakyat.

M.NABIR GARS |Aktivis Gerakan Anak Rakyat Sulawesi Barat