Begitu suara rakyat selesai dihitung, empati pun ikut dikubur. Mereka yang dulu berjanji memperjuangkan kesejahteraan kini memilih diam, seolah penderitaan rakyat bukan bagian dari tanggung jawab politik mereka.
MAMASA — Aktivis muda asal Mamasa yang juga Ketua Bakorcab Fokusmaker Kota Parepare, Muh. Ikbal, S.H., menyoroti sikap anggota DPRD Kabupaten Mamasa yang dinilainya kehilangan empati terhadap rakyat yang tengah berjuang dalam kesulitan. Kritik itu mencuat menyusul kisah pasangan lansia asal Pamoseang–Indobanua, Bapak Yunus dan Ibu Janaria, yang bertahun-tahun sakit tanpa mendapatkan perhatian memadai dari pemerintah maupun wakil rakyat.
Menurut Ikbal, diamnya para anggota dewan mencerminkan lemahnya kepekaan sosial dan hilangnya rasa tanggung jawab politik terhadap rakyat yang mereka wakili.
“Begitu suara rakyat selesai dihitung, empati pun ikut dikubur. Mereka yang dulu berjanji memperjuangkan kesejahteraan kini memilih diam, seolah penderitaan rakyat bukan bagian dari tanggung jawab politik mereka,” ujarnya, Jumat (7/11).
Ikbal menyebut, DPRD Kabupaten Mamasa kini lebih banyak hadir di ruang-ruang formal seperti rapat dan agenda seremonial, tetapi absen di ruang sosial tempat rakyat menjerit meminta tolong.
“Rakyat tidak butuh foto kegiatan atau sambutan panjang. Mereka butuh kehadiran nyata. Tapi sayangnya, dewan lebih sibuk menjaga citra ketimbang nurani,” tegasnya.
Ia menilai, ironi terbesar muncul ketika masyarakat justru bergerak lebih dulu menolong sesama, menandu Bapak Yunus dan Ibu Janaria sejauh hampir tujuh kilometer agar bisa dijemput ambulans dan mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Yang tidak punya jabatan justru yang paling cepat bergerak. Sementara yang bergaji dari uang rakyat malah bersembunyi di balik prosedur,” kata Ikbal.
Bagi Ikbal, kejadian ini menjadi cermin bahwa politik di Mamasa kian kehilangan makna kemanusiaan, berubah menjadi sekadar urusan kursi dan kepentingan elektoral.
“Rakyat dianggap penting hanya saat pemilu. Setelah itu, mereka hilang dari pandangan. Padahal, tugas wakil rakyat bukan hanya bicara anggaran, tapi juga hadir di tengah penderitaan rakyat,” ujarnya.
Ikbal menutup dengan pernyataan yang menohok namun reflektif:
“Empati adalah bentuk paling dasar dari politik. Tanpanya, DPRD Kabupaten Mamasa hanya akan menjadi panggung formalitas tanpa makna. Rakyat tidak menunggu belas kasihan, mereka hanya ingin diyakinkan bahwa kemanusiaan belum mati di Mamasa.” (*)




