MAMASA — Jembatan Mambi selama ini dikenal sebagai salah satu titik keindahan di Kecamatan Mambi. Pada pagi dan sore hari, kawasan ini menyuguhkan hamparan sawah yang luas, dengan Buttu Pepana tampak jelas menjulang sebagai ikon Mambi. Namun dalam sekitar lima tahun terakhir, keindahan tersebut perlahan terkikis oleh tumpukan sampah rumah tangga yang terus menyangkut di bagian bawah rangka jembatan.
Plastik, kain bekas, dan limbah lainnya terlihat menumpuk tanpa penanganan serius. Kondisi ini menimbulkan kesan kuat adanya pembiaran. Sampah datang silih berganti, terutama saat debit sungai meningkat, tetapi tidak pernah dibersihkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Aktivis lingkungan Glen menilai persoalan ini mencerminkan kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga ikon ruang publik. “Ini bukan kejadian baru. Sudah bertahun-tahun, sekitar lima tahunan. Kalau selama itu dibiarkan, berarti ada pembiaran,” ujar Glen, (25/12/25).
Menurut Glen, tumpukan sampah tersebut berpotensi merusak kualitas air sungai, mengancam ekosistem, serta meningkatkan risiko banjir. Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan sampah pada struktur jembatan dapat berdampak pada ketahanan infrastruktur dalam jangka panjang.
Glen menyoroti minimnya langkah konkret dari pemerintah kecamatan maupun dinas terkait. Hingga kini, kata dia, belum terlihat pembersihan rutin, sistem pengendalian sampah dari hulu ke hilir, maupun penegakan sanksi terhadap pembuang sampah sembarangan, meski Jembatan Mambi merupakan ikon daerah dan ruang publik strategis.
Ia mendesak pemerintah daerah segera mengambil tindakan tegas agar Jembatan Mambi tidak terus menjadi simbol kelalaian. “Keindahan Mambi itu nyata, tapi kalau dibiarkan lima tahun seperti ini, yang terlihat justru wajah abai pemerintah,” kata Glen. (*)




