Festival Sipamandar 2025: Sossorang Assimemangang, Di Mana Waktu dan Budaya Bertemu

Sekati.id, MAJENE—Malam menurunkan tirainya perlahan di atas Stadion Prasamya, Majene. Angin yang datang dari laut membawa aroma garam dan nostalgia, seolah mengingatkan bahwa setiap hembusan mengandung kisah yang tak selesai diceritakan. Di antara cahaya lampu dan suara manusia yang berbaur, Festival Sipamandar 2025 dibuka — bukan dengan gegap gempita yang meluap, melainkan dengan denyut halus yang terasa di dada: denyut kebanggaan dan kerinduan yang bersatu dalam satu napas kebudayaan.

Tema yang diusung tahun ini, “Sossorang Assimemangang,” menyimpan makna yang jauh melampaui kata. Dalam bahasa Mandar, ia berarti segala bentuk budaya leluhur yang terus dilakukan dan diwariskan. Namun dalam jantung maknanya, tersimpan sesuatu yang lebih lembut: kesadaran bahwa hidup manusia selalu berakar pada sesuatu yang datang sebelum dirinya. Bahwa setiap tarian, tenunan, dan lagu adalah cara manusia Mandar berbicara dengan waktu — bukan untuk menantangnya, melainkan untuk menyapanya dengan hormat.

Afiat Mulwan, sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Majene, menyebut tema itu sebagai ajakan untuk kembali menoleh pada warisan yang telah lama menjaga kita. Ia berbicara dengan nada yang tenang, tapi di balik kalimatnya terasa denyut harapan: agar budaya tidak sekadar jadi perhiasan upacara, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari — napas yang menyatu dengan langkah dan gerak.

Ist

Festival ini, yang berlangsung dari 24 hingga 28 Oktober 2025, bukan sekadar rangkaian pertunjukan. Ia lebih mirip sebuah ziarah kultural: perjalanan menuju akar. Di panggungnya, para penari menari bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk menghidupkan ingatan. Lihatlah cara mereka bergerak — tangan yang meniru ombak, kaki yang mengikuti irama bumi. Di setiap gerak itu, ada percakapan antara tubuh dan tanah, antara generasi yang pernah ada dan yang sedang tumbuh.

Sulawesi Barat, dalam gemuruh modernitasnya, seolah berhenti sejenak malam itu. Di antara kain tenun, bunyi saronen, dan tabuhan gendang, manusia Mandar kembali menjadi bagian dari kisah panjang yang tak putus. Kita diingatkan bahwa kebudayaan bukanlah benda mati yang dipajang di museum waktu, melainkan sesuatu yang hidup di dalam diri, yang bergerak bersama napas dan langkah kita. Ia menua bersama kita, tapi tak pernah benar-benar tua.

“Sossorang Assimemangang” juga dapat dibaca sebagai doa — agar apa yang diwariskan leluhur tidak berhenti di batas seremoni. Sebab budaya yang hanya diingat tanpa dihidupi akan kehilangan tubuhnya. Yang membuatnya bertahan bukanlah perayaan tahunan, melainkan tindakan kecil sehari-hari: seorang ibu yang mengajarkan lagu lama pada anaknya, seorang nelayan yang masih menuturkan mantra laut sebelum berangkat, seorang penenun yang terus menganyam benang dengan sabar tanpa menyadari bahwa ia sedang menenun waktu.

Dan di sinilah letak keindahan Festival Sipamandar: ia tidak memaksa budaya untuk menjadi spektakel, tapi mengajaknya pulang ke rumah. Di setiap wajah yang menonton malam itu, tampak kebanggaan yang sederhana — bahwa di balik segala perubahan, masih ada ruang bagi yang lampau untuk duduk dan berbicara.

Ketika gong terakhir dibunyikan dan lampu-lampu mulai meredup, udara Majene terasa berbeda: lebih hangat, lebih tenang, lebih dekat pada sesuatu yang purba namun tetap hidup. Mungkin inilah yang dimaksud “Assimemangang” — kebersinambungan yang tak hanya mengikat generasi, tapi juga menjembatani waktu. Di sana, budaya tidak lagi sekadar warisan; ia menjadi cara manusia memahami dirinya sendiri.

Festival akan usai dalam beberapa hari, tetapi gema maknanya akan tinggal lebih lama — seperti aroma laut yang masih menempel di kulit setelah perjalanan jauh.
Dan mungkin, selama “Sossorang Assimemangang” masih dihidupi, Mandar tidak akan pernah kehilangan suaranya.

Majene, 24 Oktober 2025

SHALEH PAMOSEANG