Muhammad Imran: Aksi Tolak Tambang, Cinta Keadilan Ditindas oleh Represi

Mamuju, 10 Mei 2025 — Di bawah langit Sulawesi Barat yang penuh dengan harapan, ratusan suara bergema dalam satu tekad, menyuarakan penolakan terhadap tambang yang mengancam ruang hidup dan masa depan mereka. Aksi jilid kedua penolakan tambang yang digelar oleh Aliansi Rakyat Sulbar pada 9 Mei 2025 bukan sekadar protes, tetapi sebuah seruan penuh keberanian yang menginginkan keadilan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan yang tulus itu dibungkam dengan kawat berduri, dan ruang untuk berbicara dipersempit oleh penjagaan ketat aparat kepolisian, yang menghadirkan lebih banyak ketakutan daripada harapan.

Massa Aksi dan Kawat Berduri

Saat massa berusaha untuk menyuarakan aspirasi mereka, ketegangan yang semula dapat dihindari malah membesar. Pemukulan dan kekerasan fisik yang diterima oleh beberapa demonstran menggambarkan wajah kekuasaan yang semakin menutup telinga terhadap suara rakyat. Mereka yang datang dengan damai untuk memperjuangkan tanah dan kehidupan yang lebih baik justru diperlakukan dengan cara yang tak manusiawi. Bukan ruang dialog yang diberikan, melainkan kekerasan yang semakin memperlebar jurang antara rakyat dan pemerintah.

Muhammad Imran, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manakarra, mengutuk keras tindakan represif tersebut. “Rakyat datang bukan untuk menghadapi kekerasan, mereka datang membawa suara mereka yang ingin hidup dalam keadilan. Namun, yang mereka terima adalah pemukulan dan penghalangan,” ujarnya. Imran menilai tindakan tersebut sebagai bukti nyata ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat yang telah lama terpinggirkan. “Mereka yang datang berbicara untuk masa depan anak cucu mereka, untuk tanah yang akan mereka pijak. Tetapi, yang mereka hadapi adalah kekerasan yang hanya menambah luka dalam hati rakyat,” tambahnya.

Aksi ini bukan sekadar sebuah protes, tetapi sebuah gambaran dari ketidakadilan yang meresap dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Barat. Tanah yang terancam, suara yang dibungkam, dan harapan yang terkikis oleh kebijakan yang tidak pernah mendengarkan. Di tengah-tengah semua itu, rakyat yang terus memperjuangkan hak mereka dibiarkan berjuang dalam kesendirian, sementara kekuasaan terus berjalan tanpa solusi yang jelas.

Yang tersisa kini hanyalah luka—luka yang semakin dalam, antara suara rakyat dan kekuasaan yang seharusnya melindungi mereka. Sebuah kisah tentang perjuangan yang ditindas, namun tak pernah padam, karena di setiap langkahnya, cinta keadilan itu selalu menemukan cara untuk bangkit kembali. (*)