Desa Popenga Munuju Desa Aman Pangan

Muslimin,S.Kom, Kepala Desa Popenga, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. (ist)

SulbarUpdate.com-MAJENE, Sejak berdiri sendiri sebagai salah satu desa di Kabupaten Majene, Desa Popenga telah banyak berbenah dari berbagai aspek pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kendati demikian, desa terpencil yang diapit oleh batas wilayah Kabupaten Majene dan Mamasa tersebut masih banyak persoalan, seperti akses jalan yang penghubung antara kecamatan yang masih sangat buruk. Hal berbeda dengan kebanyakan desa yang lainnya di Kabupaten Majene. dari 62 desa, Popenga adalah satu-satunya desa yang memiliki luas wilayah terluas. Dari Profil Desa pada tahun 2022 luas wilayah desa Popenga adalah 126,69 Hm/m2.

Berada pada ketinggian rata-rata 1200 Mdpl, Desa popenga memliki banyak potensi Sumber Daya Alam pada bidang pertanian dan perkebunan. Melihat potensi tersebut, Kepala Desa Popenga , Muslimin, tidak tinggal diam. Sejak menjabat pada tahun 2017 lalu, ia banyak fokuskan program pengembangan pangan. Ia buktikan dengan lima tahun terakhir dengan menyulap Desa Popenga jadi desa yang menuju sandang pangan. Tidak main-main, dua tahun ia menjabat program percetakan sawah yang ia programkan mencapai 50 hektar.

“Kondisi saat ini sudah banyak perubahan. Sebelumnya masyarakat harus membeli beras sekarang sudah bisa mandiri. Walaupun belum maksimal tetapi kebutuhan pangan lokal sudah meningkat,” terang Muslimin, Sabtu (1/4/23).

Muslimin mengakui, bahwa sejak awal ia berniat membawa desanya menjadi desa yang Mandiri. Itu tertuang dalam visi dan misi Desa Popenga sebagai desa yang Mandiri dan Religius. Ia juga tidak menampik masih banyak kekurangan dalam lima tahun pemerintahannya.

“Kami tidak menampik kalau masih banyak kekurangan. Tetapi Setidaknya visi yang tertuang dalam Rencana Kerja Jangka Menengah Desa telah terpenuhi,”tambahnya.

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Dari pengertian pangan yang dikutip dari situs resmi Badan Pengawasan Obat da Makanan (BPOM), barulah sektor pertanian yang bisa dibilang behasil di Desa Popenga. Hal itulah yang membuat resah seorang Muslimin, ia merasa belum mampu membawa desanya lebih baik kedepan hanya dengan waktu enam tahun. Hal itu diakibatkan banyak aspek.

Salah satu kendala utama di Desa Popenga adalah akses jalan yang sangat Buruk. Bayangkan saja, harga semen yang seharusnya hanya Rp 59.000 harus dihargai dua kali lipat di Popenga. Bahkan mencapai Rp 250.000 di beberapa dusun.

“Sebenarnya kami terkendala jalanan saja. Kami mau bangun irigasi saja harus menggunakan biaya dua kali lipat dari biasanya,” curhat Muslimin.

Demikian rumitnya jadi warga Desa Popenga. Berangkat kepasar saja butu biaya jutaan rupiah. Tarif ojek menuju kota kisaran Rp 250.000.

Pada akhir wawancara Muslimin berharap, Desanya segera keluar dari status tertinggal dan terpencil. Sehingga apa yang menjadi upaya pemerintah desa bisa lebih mudah dilaksanakan.

“Harapan kami adalah kemandirian, semoga kedepannya Popenga bisa jadi desa yang bisa memenuhi kebutuhan sendiri, utamanya pangan,” tutupnya.

Laporan |Shaleh Muhammad Sr

Penulis: ShmEditor: red