Majene,- Kurang lebih 1 tahun lebih penanganan pasca gempa khususnya di Kabupaten Majene masih menyisakan sejumlah persoalan.
Waktu yang cukup panjang, yang dilakukan Pemda banyak pencitraan, eksploitatif dan PHP.
Bagaimana tidak, bantuan stimulan rumah rusak Tahap II belum ada, Dana Tunggu Hunian (DTH) Darurat rumah rusak berat tahap belum ada, pembangunan sekolah sangat lambat sehingga proses belajar mengajar tidak jelas.
Relokasi 44 Kepala Keluarga di Dusun Salurindu, Desa Salutahongang yang terancam longsor belum dilakukan padahal sudah dijanjikan Pemda. Disana ada lansia, ibu-ibu, anak bahkan bayi. Pernah tidak Pemda Majene ke Salurindu bertemu dengan anak-anak diatas untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan dengan baik. Sebagaimana makna filosofis dari Peringatan Hari Anak Nasional.
Warga Dusun Aholeang dan Rui Desa Mekkatta sampai saat ini masih tinggal dihunian sementara.
Apalagi kalau bicara pemulihan ekonomi, kinerja Pemerintah Pusat, Pemda Majene, Pemerintah Desa Nol Besar. Sebagaimana amanat Perda Nomor 9 Kabupaten Majene Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Disana jelas fase tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi korban gempa.
Saat satu tahun pasca gempa kemudian diiberitakan Metro TV tiba-tiba turun bantuan Kemensos berupa tenda lagi dan masak-masak. Saya wawancara dengan masyarakat katanya tim Kemensos hanya datang sibuk dengan dirinya sendiri. Jelas ini pencitraan.
Sabtu, 23 Juli 2022 tiba-tiba Pemda Majene akan melaksanakan peringatan Hari Anak Nasional yang memusatkan di Desa Mekkatta. Jelas ini sangat pencitraan dan eksploitatif.
Hari anak diperingati untuk menghormati, menghargai, menjamin dan memberikan terbaik kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Maka pertanyaannya apakah Pemda Majene melakukan itu untuk anak korban gempa? Jawaban tidak. Bahkan anak-anak di Aholeang dan Rui masih belajar ditenda darurat.
Dengan Peringatan Hari Anak Nasional tersebut Pemda Majene ingin memperlihatkan peduli dengan anak tapi fakta singkatnya telah saya paparkan diatas. Apa namanya kalau ini bukan Ekploitasi. Seolah-olah Peduli padahal tidak.
Penulis : Irwan Japaruddin
Jenderal Lapangan
Solidaritas Perjuangan
Mahasiswa Majene
Untuk Korban Gempa




