SulbarUpdate.com, MAJENE – Desa Budaya Tandeallo di Kabupaten Majene, Sulbar akan menggelar Ferstival Budaya pada tanggal 25-27 November 2022.
Festival akan diselenggarakan selama dua hari dengan beberapa perlombaan yang berkaitan dengan adat dan budaya lokal.
Ketua Panitia, Muhammad Gaus bilang, kegiatan itu adalah tindak lanjut penghargaan yang diterima Desa Tandeallo pada Desember Tahun 2021.
“Kegiatan ini digelar di Desa Tandeallo sebagai tindak lanjut setelah sebelumnya Desa Tandeallo mendapatkan penghargaan sebagai Desa Budaya yang diberikan langsung oleh kementerian,” ucapnya, Rabu (09/11/22).
Tujuannya sebagai sarana promosi Desa Budaya Tandeallo kepada khalayak ramai domestik dan mancanegara.
Sambung Muhammad Gaus, festival tersebut merupakan kegiatan yang dinaungi dan didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dalam rangka pemajuan kebudayan desa.
“Festival ini mengangkat tema, Pelestarian Budaya dan Tradisi Adat Tuho dalam Arus Perkembangan Zaman. Maknanya bahwa kegiatan ini secara implisit akan dikerangkai dengan nilai-nilai Adat Tuho. Kegiatan ini juga sebagai stimulus bagi masyarakat Desa Tandeallo dalam mengembangkan produksi yang yang bisa menunjang mereka secara ekonomi,” terang pemuda yang akrab disapa Gaus.
Selain kementerian, juga kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat dan sanggar seni lokalan.
Selain warga sekitar, rupanya Festival Budaya Desa Tandeallo juga terbuka untuk umum. Semua diundang untuk menyaksikan dan mensukseskan kegembiraan warga desa di kaki Pegunungan Quarles itu.
“Untuk perlombaan dan pengunjung kita buka untuk umum. Kami persilahkan kepada siapapun, catat tanggalnya dan kami tunggu di Taukong, Tandeallo,” tutup Gaus.
100 Lesung Bernyanyi di Tandeallo
Lesung, Isso orang Tandeallo menyebutnya. Pengunjung aka disuguhkan jejeran Lesung yang jumlahnya 100 dan 300 orang dara cantik akan bernyanyi dan sedikit pinggul bergoyang.
Bukan karena joget tidak bermakna, gerakan itu adalah budaya dan tradisi leluhur mereka.
Sejak dahulu kala, Lesung tidak pernah jauh dari tiang-tiang rumah warga disana. Tidak susah mencarinya, jalan saja ke tengah perkampungan maka akan ditemukan berdampingan dengan tangga rumah panggung.
Meski kepungan modernisasi saat ini, tetapi tetap saja Isso eksis berdampingan dengan mesin tekhnologi canggih. Itulah sebabnya Desa Tandeallo diganjar penghargaan. Tidak main-main, Desa Budaya di Nusantara.
Lesung dan Alu (pelambu) bagian penting dari mereka. Sudah menjadi daur hidup masyarakat Tandeallo.
Anak yang baru lahir dan sudah tua-tua punya memoar yang sama. Kadang diluar sana generasi tahun 80an merindukan susana saat mereka sering berlarian di pematang sawah, atau sekedar membantu ibu menumbuk Padi. Di Tandeallo? beda.
Semua yang jadi memori di Tandeallo masih saja sama. Subuh saja masih dengar suara Ayam Jantan menyambut fajar. Nyanyian Lesung dan Alu, juga mengantar Ibu suguhkan secangkir Kopi hasil keringat Ayah.
Semuanya akan jadi berkesan dan sumber pengetahun baru jika hadir di Festival Budaya Tandeallo.(Adv/Shm)
Yook, Isso dan Pelambu menunggu.





